BER-KOMSOS

Ini itu tentang bagaimana Gereja berjiarah di dunia yang berkomunikasi sosial.

Sunday, December 31, 2000

SGK 2005

"Media Komunikasi:

Pelayanan Saling Pengertian

Di Antara Masyarakat"


PESAN BAPA SUCI YOHANES PAULUS II

UNTUK HARI KOMUNIKASI SEDUNIA KE-39

Saudara-saudari yang terkasih,

1. Kita membaca dalam Surat Santo Yakobus, "Dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi" (Yak 3:10). Kitab Suci itu mengingatkan kita bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mempersatukan orang atau untuk memecahbelah mereka, untuk menjalin ikatan persahabatan atau untuk memancing perseteruan.

Ini tidak hanya berlaku untuk kata-kata yang disampaikan seseorang kepada orang lain: ini juga berlaku untuk komunikasi di segala tingkat. Dalam pelayanannya, teknologi modern menempatkan berbagai kemungkinan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk kebaikan, untuk mewartakan kebenaran akan keselamatan kita dalam Yesus Kristus dan untuk meningkatkan kerukunan dan rekonsiliasi. Namun penyalahgunaannya bisa menciptakan kejahatan yang tak terungkap, yang menciptakan kesalahpahaman, prasangka, dan bahkan konflik. Tema yang dipilih untuk Hari Komunikasi se-Dunia 2005 - "Media Komunikasi: Pelayanan Saling Pengertian Di Antara Masyarakat" - menyampaikan kebutuhan mendesak: untuk meningkatkan persatuan keluarga umat manusia dengan memanfaatkan sumber daya yang luar biasa ini.

2. Satu cara penting untuk mencapai tujuan ini adalah lewat pendidikan. Media bisa mengajarkan miliaran orang tentang bagian-bagian dunia yang lain dan budaya-budaya yang lain. Dengan alasan yang baik, mereka disebut sebagai "Areopagus pertama di zaman modern ... karena banyak sarana utama dari informasi dan pendidikan, dari bimbingan dan inspirasi dalam berperilaku sebagai individu, keluarga, dan dalam masyarakat luas" (Redemptoris Missio, 37). Pengetahuan yang akurat meningkatkan pemahaman, melenyapkan prasangka, dan membangkitkan keinginan untuk lebih banyak belajar. Gambar-gambar, secara khusus, mempunyai kekuatan untuk menyampaikan kesan abadi dan untuk membentuk sikap. Gambar-gambar mengajarkan masyarakat tentang cara menghormati anggota dari kelompok-kelompok dan negara-negara lain, yang secara tidak kentara mempengaruhi baik mereka yang dianggap sebagai teman maupun musuh, sekutu atau yang berpotensi menjadi musuh.

Ketika orang lain dikabarkan sedang dalam perseteruan, benih-benih konflik ditaburkan, dan ini semua bisa dengan mudah meluas menjadi kekerasan, peperangan, atau bahkan pembunuhan. Bukannya untuk membangun persatuan dan pemahaman, media bisa digunakan untuk meracuni kelompok-kelompok sosial, etnis, dan agama lain, yang menimbulkan ketakutan dan kebencian. Orang-orang yang bertanggung jawab atas gaya dan isi dari apa yang dikomunikasikan mempunyai tugas utama untuk memastikan bahwa hal ini tidak terjadi. Memang, media punya potensi yang sangat besar untuk meningkatkan perdamaian dan membangun jembatan antar-masyarakat, menghancurkan siklus fatal dari kekerasan, pembalasan, dan kekerasan baru yang menyebar luas dewasa ini. Dalam kata-kata Santo Paulus, yang menjadi landasan dari Pesan Hari Perdamaian se-Dunia tahun ini: "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan" (Rom 12:21).

3. Jika kontribusi untuk menciptakan perdamaian semacam itu merupakan salah satu cara penting bagi media untuk mempersatukan manusia, pengaruhnya menyangkut mobilisasi bantuan yang sangat cepat untuk menanggapi bencana alam adalah soal lain. Sungguh membesarkan hati melihat betapa cepat komunitas internasional merespon bencana tsunami baru-baru ini yang menewaskan begitu banyak korban. Kecepatan pemberitaan dewasa ini sewajarnya meningkatkan kemungkinan untuk mengambil langkah-langkah praktis tepat waktu untuk memberikan bantuan maksimal. Dengan cara demikian, media bisa mewujudkan kebaikan yang begitu besar.

4. Konsili Vatikan Kedua mengingatkan kita: "Untuk menggunakan upaya-upaya itu dengan tepat, sungguh perlulah bahwa siapa saja yang memakainya mengetahui norma-norma moral, dan di bidang itu mempraktekkannya dengan setia" (Inter Mirifica, 4).

Prinsip etis yang mendasar adalah: "Pribadi manusia dan komunitas manusia adalah tujuan dan ukuran dari penggunaan media komunikasi sosial; komunikasi hendaknya dilakukan oleh orang kepada orang lain demi pengembangan integral masyarakat" (Etika dalam Komunikasi, 21). Maka intinya, para komunikator harus mempraktekkan dalam kehidupan mereka sendiri nilai-nilai dan perilaku yang diimbau mereka untuk ditanamkan dalam diri orang lain. Yang terpenting, ini harus mencakup komitmen yang sesungguhnya demi kebaikan bersama - suatu kebaikan yang tidak terbatas pada kepentingan sempit dari sebuah kelompok atau negara tertentu tapi memenuhi kebutuhan dan kepentingan semua orang, kebaikan seluruh keluarga umat manusia (cf. Pacem in Terris, 132). Para komunikator punya kesempatan untuk meningkatkan budaya kehidupan sejati dengan menjauhkan diri mereka dari konspirasi terhadap kehidupan dewasa ini (cf. Evangelium Vitae, 17) dan menyampaikan kebenaran tentang nilai dan martabat setiap pribadi manusia.

5. Model dan pola semua komunikasi ada dalam Sabda Allah sendiri. "Setelah pada zaman dahulu Allah berulangkali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya" (Ibr 1:1). Sabda yang menjelma menjadi manusia itu telah menciptakan suatu perjanjian baru antara Allah dan umat-Nya - suatu perjanjian yang juga menyatukan kita dalam komunitas dengan sesama. "Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan" (Ef 2:14).

Doa saya pada Hari Komunikasi se-Dunia tahun ini adalah semoga para pekerja media akan memainkan peranan mereka dalam merubuhkan tembok-tembok perseteruan yang memecahbelah di dunia kita, tembok-tembok yang memisahkan masyarakat dan negara, yang menciptakan kesalahpahaman dan ketidakpercayaan. Semoga mereka menggunakan sumber dayanya untuk mempererat ikatan persahabatan dan cinta kasih yang jelas-jelas menandakan awal dari Kerajaan Allah di sini, di dunia.

Dari Vatikan, 24 Januari 2005,

Pesta Santo Fransiskus dari Sales

Saturday, December 30, 2000

SGK 2004

MEDIA DAN KELUARGA:

RESIKO DAN KEKAYAAN


PESAN BAPA SUCI YOHANES PAULUS II

PADA HARI KOMUNIKASI SEDUNIA KE-38

23 MEI, 2004


TEMA: MEDIA DAN KELUARGA: RESIKO DAN KEKAYAAN


Saudara-Saudari yang terkasih,


1. Media komunikasi berkembang luar biasa dan semakin mudah terjangkau; perkembangan ini membawa peluang istimewa untuk memperkaya bukan saja hidup individu, namun juga keluarga-keluarga. Pada waktu yang sama, keluarga-keluarga dewasa ini menghadapi tantangan-tantangan baru yang muncul dari pesan-pesan media massa
yang beraneka-ragam dan bahkan seringkali saling bertentangan. Tema yang dipilih untuk Hari Komunikasi Sedunia 2004―Media dan Keluarga: Resiko dan Kekayaan"―adalah tepat waktu, karena mengajak refleksi yang jernih tentang bagaimana keluarga-keluarga menggunakan media dan, sebaliknya, bagaimana media menggarap keluarga dan keprihatinannya.

Tema tahun ini juga mengingatkan semua orang, baik para pelaku komunikasi maupun orang-orang yang mereka sapa, bahwa segala komunikasi memiliki dimensi moral.
Seperti telah dikatakan oleh Tuhan sendiri, kata-kata itu keluar dari luapan hati (Bdk. Mat 12:34-35). Orang-orang bertumbuh atau merosot dalam bidang moral karena kata-kata yang mereka ucapkan dan pesan-pesan yang mereka pilih untuk didengarkan. Konsekuensinya, kebijaksanaan dan ketajaman budi dalam penggunaan media secara khusus dituntut dari pihak para profesional di bidang komunikasi, orangtua, dan pendidik, karena keputusan mereka sangat mempengaruhi anak-anak dan orang muda, yang menjadi tanggung jawab mereka dan akhirnya merupakan masa depan masyarakat.

2. Berkat ekspansi pasar komunikasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam puluhan tahun terakhir, banyak keluarga di seluruh dunia, bahkan mereka berpenghasilan pas-pasan, kini bisa mengakses dari rumah mereka sendiri berbagai sumber media yang banyak jumlahnya dan beraneka-ragam. Akibatnya, mereka menikmati peluang hampir tak terbatas untuk memperoleh informasi, pendidikan, perluasan budaya, dan bahkan pertumbuhan rohani―peluang yang jauh melebihi apa yang bisa diperoleh kebanyakan keluarga di masa lampau.

Namun, media yang sama ini juga mempunyai kemampuan untuk merusak berat keluarga-keluarga lewat sajian pandangan yang tidak seimbang bahkan keliru tentang kehidupan, keluarga, agama, dan kesusilaan. Kekuatan ini, baik menguatkan maupun melindas nilai-nilai tradisional seperti agama, kebudayaan, dan keluarga, telah dilihat dengan jelas oleh Konsili Vatikan Kedua. Konsili ini mengajarkan bahwa "agar media dimanfaatkan secara tepat, maka penting lah bahwa siapa pun yang menggunakannya harus faham akan norma-norma moral dan menerapkan prinsip-prinsip itu dengan setia" (Inter Mirifica, 4). Komunikasi dalam bentuk apa pun harus selalu diilhami oleh ukuran etis menyangkut rasa hormat terhadap kebenaran dan martabat pribadi manusia.

3. Pertimbangan-pertimbangan ini berlaku khususnya bagi perlakuan media terhadap keluarga. Di satu pihak, perkawinan dan kehidupan keluarga sering dilukiskan secara sensitif, realistis, tetapi juga simpatik, yang mengagungkan keutamaan-keutamaan seperti cinta, kesetiaan, pengampunan, dan pengorbanan diri yang besar untuk orang lain. Ini berlaku juga bagi tayangan media yang mengakui kekecewaan dan kegagalan yang tak terelakkan dialami oleh keluarga dan pasangan-pasangan yang menikah―ketegangan, konflik, kemunduran, aneka pilihan jahat, dan perbuatan yang menyakitkan―namun pada waktu yang sama berikhtiar memisahkan yang benar dari yang salah, membedakan cinta sejati dari yang palsu, dan menunjukkan pentingnya keluarga sebagai satu unit fundamental yang tak tergantikan dalam masyarakat.

Di lain pihak, keluarga dan kehidupan keluarga sering dilukiskan secara kurang memadai oleh media. Perselingkuhan, kegiatan seks di luar perkawinan, dan perjanjian perkawinan tanpa visi spiritual dan moral digambarkan secara tidak kritis, dan sementara dukungan positif terlalu sering diberikan pada perceraian, kontrasepsi, aborsi, dan homo-seksualitas. Dengan menonjolkan alasan-alasan yang membahayakan perkawinan dan keluarga, gambaran-gambaran seperti itu merugikan kepentingan masyarakat umum.

4. Refleksi jeli tentang dimensi etis dalam komunikasi harus membuahkan prakarsa-prakarsa praktis yang bertujuan untuk melenyapkan resiko terhadap kesejahteraan keluarga yang ditawarkan media dan memastikan bahwa alat-alat komunikasi yang memiliki kekuatan ini tetap menjadi sumber asali yang memperkaya. Tanggung jawab khusus menyangkut hal ini berada pada orang-orang komunikasi sendiri, otoritas publik, dan orangtua.

Paus Paulus VI mengatakan bahwa orang-orang komunikasi yang profesional harus "mengetahui dan menghormati kebutuhan keluarga, dan ini kadang-kadang mengandaikan bahwa mereka memiliki keberanian benar, dan selalu memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi" (Pesan Hari Komunikasi Sedunia 1969). Memang tidak gampang menolak tekanan kepentingan bisnis atau tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan ideologi-ideologi sekular, tetapi itulah yang harus dilakukan oleh orang-orang media yang bertanggungjawab. Taruhannya tinggi, karena setiap serangan terhadap nilai fundamental keluarga merupakan serangan terhadap kebaikan sejati manusia.

Otoritas publik sendiri mempunyai tugas serius untuk menjunjung tinggi perkawinan dan keluarga demi masyarakat itu sendiri. Namun, kini banyak yang menerima dan bertindak mengikuti pandangan-pandangan kebablasan dan sumbang dari kelompok-kelompok yang mendukung praktek-praktek yang menimbulkan krisis keluarga yang sangat serius dan memperlemah konsep dasar keluarga sendiri. Tanpa mengambil tindakan sensor, otoritas publik wajib menetapkan kebijakan dan prosedur yang menjamin bahwa media tidak bertindak melawan apa yang baik bagi keluarga. Wakil-wakil keluarga harus terlibat dalam penyusunan kebijakan ini.

Para pembuat kebijakan dalam media dan sektor publik harus juga mengusahakan penyebaran sumber media yang seimbang di tingkat nasional dan internasional, dengan tetap menghormati integritas kebudayaan-kebudayaan tradisional. Media hendaknya tidak memiliki agenda yang memusuhi nilai-nilai keluarga yang sehat dari kebudayaan-kebudayaan tradisional atau tujuan yang menggantikan nilai-nilai itu, sebagai bagian dari proses globalisasi, dengan nilai-nilai sekular dari masyarakat konsumen.

5. Orangtua, sebagai pendidik utama dan sangat penting bagi anak-anak mereka, adalah orang pertama yang harus mengajar mereka tentang seluk beluk media. Orangtua dipanggil untuk mendidik keturunannya dalam "menggunakan media secara moderat, kritis, waspada, dan bijaksana" dalam keluarga (Familiaris Consortio, 76). Jika orangtua melakukan hal itu secara konsisten dan baik, kehidupan keluarga sangat diperkaya. Bahkan anak-anak sejak dini dapat diajarkan pelajaran penting tentang media: bahwa media itu dihasilkan oleh orang-orang yang bersemangat untuk mengkomunikasikan pesan; bahwa pesan itu bertujuan untuk mendorong orang melakukan sesuatu -- untuk membeli suatu produk, untuk terlibat dalam perilaku meragukan -- yang bukan demi kebaikan anak itu atau tidak sesuai dengan kebenaran moral; bahwa anak-anak hendaknya tidak menerima atau meniru semua yang ditemukan dalam media tanpa sikap kritis.

Orangtua juga perlu mengatur penggunaan media dalam keluarga. Ini meliputi rencana dan jadwal penggunaan media, dengan tegas membatasi waktu bagi anak-anak untuk mengikuti acara media, membuat hiburan sebagai pengalaman keluarga, menaruh sejumlah media sama sekali di luar jangkauan mereka dan secara berkala tidak menggunakan media sama sekali demi kegiatan-kegiatan keluarga. Namun yang lebih penting, orangtua hendaknya memberi contoh yang baik kepada anak-anak dengan cara mereka menggunakan media secara selektif dan bijaksana. Sering juga menolong bagi orangtua jika mereka bergabung dengan keluarga-keluarga lain untuk belajar dan membahas persoalan dan peluang yang ditawarkan media. Keluarga-keluarga harus berbicara terang-terangan kepada produsen, pemasang iklan, dan otoritas publik tentang apa yang mereka inginkan dan tidak inginkan.

6. Media komunikasi sosial memiliki potensial positif yang sangat besar untuk mempromosikan nilai-nilai keluarga dan manusia yang sehat dan dengan demikian menyumbang pada pembaruan masyarakat. Mengingat media memiliki kekuatan besar untuk membentuk pandangan dan mempengaruhi perilaku, orang-orang komunikasi yang profesional hendaknya menyadari bahwa mereka mempunyai tanggung jawab moral bukan saja untuk memberi dorongan, bantuan, dan dukungan terhadap keluarga, tetapi juga melaksanakan kebijaksanaan, pertimbangan yang baik dan adil dalam presentasi mereka menyangkut masalah-masalah yang menyangkut seksualitas, perkawinan, dan kehidupan keluarga.

Media setiap hari disambut sebagai tamu yang dikenal dalam banyak rumah tangga dan keluarga. Dalam Hari Komunikasi se-Dunia ini, saya mendorong orang-orang media yang profesional maupun keluarga-keluarga untuk mengakui privilese yang unik ini dan tanggung jawab yang terkandung di dalamnya. Semoga semua yang terlibat di bidang komunikasi mengakui bahwa mereka sungguh-sungguh “bendahara dan pengurus dari suatu kekuatan spiritual luar biasa yang termasuk dalam warisan umat manusia dan yang bertujuan untuk memperkaya masyarakat manusia seluruhnya" (Pesan kepada Spesialis Komunikasi, Los Angeles, 15 September 1987, 8). Dan semoga keluarga-keluarga selalu bisa menemukan di dalam media sebuah sumber dukungan, dorongan, dan inspirasi ketika mereka berusaha keras untuk hidup sebagai komunitas kehidupan dan cinta, untuk melatih kaum muda dalam nilai-nilai moral yang sehat, dan untuk memajukan suatu budaya kesetiakawanan, kebebasan, dan perdamaian.


Vatikan, 24 Januari 2004,

Pesta Santo Fransiskus dari Sales

PAUS YOHANES PAULUS II

Friday, December 29, 2000

SGK 2003

MEDIA KOMUNIKASI

MEMBANTU MENCIPTAKAN

PERDAMAIAN SEJATI

DALAM TERANG ENSIKLIK PACEM IN TERRIS

PESAN BAPA SUCI

PADA HARI KOMUNISASI SEDUNIA KE-37

1 JUNI 2003


Saudara-Saudara Terkasih:

[Empat tiang perdamaian: Kebenaran, Keadilan, Cintakasih, dan Kebebasan]

1. Di tengah kegelapan hari-hari masa Perang Dingin, Nawala Kepausan (Ensiklik) Pacem in Terris (Damai di Bumi) dari Paus Beato Yohanes XXIII memancarkan secercah cahaya harapan bagi semua orang yang berkehendak baik. Bapa Suci menyatakan bahwa agar perdamaian sejati terwujud perlu lah “tata-tertib yang telah ditetapkan Allah sepenuhnya diindahkan” (ibid, 1). Melalui pernyataan itu Bapa Suci menunjuk pada kebenaran, keadilan, cintakasih dan kebebasan sebagai pilar-pilar masyarakat yang tenteram dan damai (ibid, 37).

[Media komunikasi perlu menghormati keempat prinsip tersebut]

Munculnya kekuatan komunikasi sosial modern menjadi bagian penting yang melatar-belakangi Ensiklik tersebut. Paus Yohanes XXIII khususnya berpikir mengenai media, ketika berseru agar media digunakan secara“adil dan tidak sepihak” sebagai “sarana-sarana untuk memajukan dan penyebaran saling pengertian di antara para bangsa” yang dimungkinkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi; beliau menyayangkan “cara-cara penyebaran informasi yang melanggar prinsip-prinsip kebenaran, keadilan, dan mencemarkan nama baik bangsa lain” (ibid, 90).

[40 Tahun setelah Pacem in Terris, perdamaian masih langka di dunia]

2. Pada hari peringatan ulang tahun (Ensiklik) Pacem in Terris, penggolongan orang-orang dalam blok-blok yang saling berlawanan umumnya sudah merupakan kenangan masa lalu yang yang memilukan. Namun demikian perdamaian, peri keadilan dan stabilitas sosial masih langka di banyak tempat di dunia ini. Terorisme, konflik di Timur Tengah dan di daerah-daerah lain, ancaman dan ancaman balik, ketidak-adilan, pemerasan, dan serangan atas martabat dan kesucian hidup manusia, baik sebelum atau sesudah lahir, merupakan kenyataan yang mencemaskan jaman kita ini.

Sementara itu, kekuatan media dalam membentuk relasi-relasi antar manusia dan mempengaruhi kehidupan sosial politik, demi kebaikan atau sebaliknya, sudah begitu pesat berkembang. Tepat pada waktunya lah tema yang dipilih untuk Hari Komuniasi Sedunia yang ke-37 ini, yakni: “Media Komunikasi Membantu Menciptakan Perdamaian Sejati dalam Terang Ensiklik Pacem in Terris.” Dunia dan media masih harus banyak belajar dari pesan Beato Paus Yohanes XXIII.

[Media mengabdi pada Kebenaran, bukan agen propaganda dan disinformasi]

3. Media dan Kebenaran. Asas moral menuntut segala komunikasi untuk menghormati kebenaran. Kebebasan untuk mencari dan mengatakan yang benar adalah asasi dalam komunikasi insani. Bukan saja komunikasi yang berisi fakta dan informasi, melainkan juga, dan terutama, komunikasi mengenai kodrat pribadi manusia dan tujuan akhirnya, mengenai masyarakat dan kesejahteraan umum, mengenai hubungan kita dengan Allah. Media masa mengemban tanggung jawab yang tak terelakkan itu, karena media masa merupakan arena modern untuk pertukaran ide dan tempat manusia mengembangkan saling pengertian dan solidaritas. Itulah sebabnya Paus Yohanes XXIII membela hak untuk mendapatkan “kebebasan dalam menyelidiki kebenaran dan—sejauh tidak melanggar tata susila dan kepentingan umum—kebebasan menyatakan dan menyebarkan pikiran” sebagai prasyarat wajib demi terciptanya perdamaian dalam masyarakat (Pacem in Terris, 12).

Sungguh, media kerap kali dengan berani memperjuangkan kebenaran; namun terkadang media berfungsi sebagai agen propaganda dan disinformasi demi kepentingan-kepentingan sempit, purbasangka atas dasar bangsa, suku, ras, dan agama, keserakahan material dan pelbagai ideologi palsu. Haruslah dilawan tekanan yang menjerumuskan media dalam kekeliruan seperti itu, pertama-tama oleh segenap insan media sendiri, tetapi juga oleh Gereja dan kelompok-kelompok yang berkepentingan lainnya.

[Media mengabdi kesejahteraan umum dengan pemberitaan yang akurat, berimbang, memelihara keadilan dan solidaritas]

4. Media dan Keadilan. Dalam Pacem in Terris Beato Yohanes XXIII secara gamblang berbicara mengenai kesejahteraan umum universal—“kesejahteraan umum, yakni, bagi seluruh keluarga manusia” (No. 132), yang menjadi hak setiap dan semua orang untuk menikmatinya.

Jangkauan global media mengandung tanggung jawab khusus dalam rangka kesejahteraan umum universal tersebut. Memang benar bahwa media terkadang menjadi milik kelompok-kelompok kepentingan tertentu, baik perorangan maupun publik. Namun karena dampaknya yang mendalam dalam kehidupan, media tidak boleh digunakan untuk mengadu kelompok yang satu lawan kelompok yang lain—umpamanya, atas nama pertentangan kelas, nasionalisme yang berlebih-lebihan, supremasi rasial, pembersihan etnis, dan sebagainya. Mempertentangkan satu kelompok lawan yang lain atas nama agama merupakan pelanggaran serius atas kebenaran dan peri keadilan, demikian juga perlakuan diskriminatif atas ajaran-ajaran agama, karena agama-agama termasuk lubuk terdalam dari martabat manusia dan kebebasan.

Dengan melaporkan kejadian-kejadian secara akurat, menjelaskan isu secara benar dan memberi ruang bagi pelbagai sudut pandang, media mengemban kewajiban berat untuk memelihara keadilan dan solidaritas hubungan antar manusia dalam segala jenjang kemasyarakatan. Tidak berarti harus bicara terus menerus mengenai keluhan atau keterpecahbelahan, melainkan menggali ke akar permasalahan sehingga bisa dipahami dan dicarikan penyembuhannya.

[Media perlu berdiri di atas kepentingan semata-mata komersial dan melayani kepentingan umum]

5. Media dan Kebebasan. Kebebasan merupakan prasyarat terciptanya perdamaian sejati sekaligus merupakah salah satu buahnya yang paling berharga. Media melayani kebebasan, kalau mengabdi pada kebenaran: Media menghalangi kebebasan kalau mengabaikan apa yang benar dengan menyebarkan kebohongan atau menciptakan iklim reaksi emosional yang tidak benar atas suatu peristiwa. Hanya dengan memiliki akses bebas pada kebenaran dan informasi yang mencukupi lah orang bisa mengejar kesejahteraan umum dan menggugat tanggung jawab penguasa.

Agar media benar-benar melayani kebebasan, media sendiri harus bebas dan secara benar menggunakan kebebasan itu. Status khusus yang dipunyai media ini mengharuskannya untuk berdiri di atas kepentingan-kepentingan semata-mata komersial serta melayani kebutuhan dan kepentingan masyarakat yang sebenarnya. Kendati peraturan umum atas media demi kepentingan kesejahteraan umum itu tepat adanya, tidaklah demikian dengan kontrol dari pemerintah. Para reporter dan khususnya para komentator mengemban kewajiban yang berat untuk mengikuti hatinurani dan melawan tekanan-tekanan untuk “mengadaptasikan” kebenaran demi memuaskan keserakahan harta maupun maupun kekuasaan politik.

Sebagai langkah praktis, harus ditemukan jalan bukan saja untuk memberikan sektor-sektor lemah dalam masyarakat akses pada informasi yang mereka perlukan untuk mengembangkan diri maupun kehidupan mereka bersama, melainkan juga untuk menjamin agar peran mereka tidak diabaikan untuk secara efektip dan bertanggung jawab menentukan isi pemberitaan media dan memilih struktur dan kebijaksanaan dalam bidang komunikasi sosial.

[Media menyumbang pada perdamaian dengan meruntuhkan tembok saling curiga, menunjung perilaku kasih dan rekonsiliasi antar bangsa]

6. Media dan Cinta Kasih. “Amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” (Yak 1:20). Pada puncak Perang Dingin, Beato Paus Yohanes XXIII mengutarakan pikiran yang sederhana namun amat mendalam mengenai jalan yang harus ditempuh untuk mencapai perdamaian: ”Perlulah prinsip yang berlaku sekarang, tempat perdamaian sekarang ini bertumpu, diganti oleh suatu prinsip yang sama sekali baru, yang menetapkan bahwa perdamaian sejati di antara para bangsa tidak dapat didasarkan pada keseimbangan kekuatan militer, tetapi hanya pada saling percaya-mempercayai. (Pacem in Terris, 113).

Media komunikasi adalah aktor utama di dunia dewasa ini, dan mempunyai peran yang amat besar dalam membangun sikap saling percaya-mempercayai. Media komunikasi begitu kuat hingga dalam waktu yang amat singkat dapat menciptakan reaksi publik, baik yang positip maupun yang negatip, terhadap suatu persistiwa menurut tujuan yang mau dicapainya. Orang yang berakal sehat menyadari bahwa kekuatan yang begitu besar dari media menuntut standar keterlibatan yang paling tinggi pada kebenaran dan kebaikan. Dalam artian ini insan media secara khusus harus menyumbang ke perdamaian di segala penjuru dunia dengan meruntuhkan penghalang-penghalang saling curiga, memelihara penghargaan atas pandangan orang lain, dan berjuang selalu untuk mempertemukan orang dan bangsa satu sama lain dalam saling pengertian dan hormat satu sama lain—dan bahkan lebih jauh lagi, ke rekonsiliasi dan kasih!

“Di mana kebencian dan haus balas dendam berkuasa, di mana perang membawa penderitaan dan kematian bagi orang yang tidak bersalah, di situlah rahmat kasih sayang diperlukan untuk melerai budi dan hati manusia dan untuk menciptakan perdamaian (Homili di Perziarahan Kemaharaman Ilahi, Krakow-Lagiewniki, 17/8/2002, No. 5).

Kendati pun semua tantangan ini sulit, sebetulnya bukanlah tuntutan yang terlalu banyak pada para insan media. Karena sudah panggilan dan profesi mereka lah mereka menjadi pelaku kebenaran, keadilan, kebebasan, dan cintakasih. Yakni, mereka, melalui pekerjaan mereka, menyumbang pada pembentukan tata masyarakat yang “didasarkan atas kebenaran, dibentuk oleh keadilan, dihidupi dan digerakkan oleh cinta kasih, dan diwujudkan di bawah bimbingan kebebasan” (Pacem in Terris, 167). Maka, pada Hari Komunikasi Sedunia ini saya berdoa semoga para insan media semakin sepenuhnya sesuai dengan tantangan panggilan mereka. Yakni, pengabdian pada kesejahteraan umum yang universal. Kepenuhan hidup mereka, perdamaian, dan kebahagiaan dunia amat tergantung pada pengabdian itu. Semoga Tuhan memberkati mereka dengan terang dan keberanian.

Vatikan, 24 Januari 2003,

Pesta St. Fransiskus dari Sales

Yohanes Paulus II

Thursday, December 28, 2000

SGK 2002

Internet:

Forum Baru

bagi

Pewartaan Injil


Pesan Bapa Suci pada Hari Komunikasi Sedunia Ke-36
Minggu, 12 Mei 2002



Saudara dan Saudari Yang Terkasih,

[Meneruskan Tugas Pewartaan Para Rasul]
1. Pada hari Pentekosta, Roh Kudus turun atas para rasul. Di bawah kuasa Roh itulah mereka lalu turun ke jalan-jalan kota Yerusalem untuk mewartakan Injil dalam pelbagai bahasa (bdk Kis 2:5-11). Tugas Gereja sepanjang jaman tiada lain melanjutkan pekerjaan yang telah dimulai para rasul itu.
Abad-abad selanjutnya, patuh pada perintah Kristus untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia (bdk Mt. 28:19-20), para pewarta Injil menyebar ke seluruh penjuru dunia. Di situ agama Kristen kemudian berakar dan belajar fasih dalam aneka bahasa dunia.

[Menuntut kreativitas dan imajinasi segar]
Namun, pewartaan Injil bukan sebatas sejarah bagaimana Gereja berkembang anggotanya dan meluas wilayahnya. Termasuk di dalamnya bagaimana Gereja berjumpa dengan aneka budaya dan tradisi. Kendati pesan yang dibawanya tetap sama, yakni Yesus Kristus, namun Gereja setiap kali dituntut menggali dan menggunakan daya kreativitas dan imajinasi yang segar, agar pesan itu difahami.

[Momen-Momen Peralihan Budaya]
Seperti jaman penemuan-penemuan besar, Jaman Pencerahan dan penemuan teknologi cetak, revolusi industri dan lahirnya dunia modern. Semuanya itu merupakan momen-momen peralihan yang menuntut bentuk-bentuk pewartaan Injil yang baru. Kini, di tengah gencarnya revolusi komunikasi dan informasi, tak pelak lagi Gereja berdiri lagi di muka sebuah pintu gerbang yang menentukan. Oleh karena itu tepatlah kalau pada hari Komunikasi Sedunia tahun 2002 ini kita merenungkan tema "Internet: Sebuah Forum Baru bagi Pewartaan Injil."

[Internet sebagai Forum]
2. Internet memang menyerupai sebuah "forum" sebagaimana dipahami dulu pada jaman Romawi kuno.
Yakni, sebuah ruang yang terbuka untuk umum tempat percaturan politik, kegiatan bisnis, ritual keagamaan, tempat interaksi kehidupan sosial kota, dan juga panggung tempat dipertontonkan segi-segi yang paling baik maupun yang paling buruk dari kodrat manusia. Forum itu terletak pada bagian dari kota yang paling padat penduduknya, juga yang paling ramai dan paling hidup. Kepadatan dan keramaian mencerminkan budaya sekitarnya dan juga menciptakan budayanya sendiri.

[Panggilan Gereja untuk berkiprah: Duc in altum!]
Semacam forum itulah Internet atau dunia maya. Boleh dikata sebagai lahan baru yang terbuka pada awal milenium ini. Seperti halnya daerah-daerah perbatasan baru pada jaman-jaman sebelumnya, Internet penuh dengan silang menyilang hal-hal yang mengandung bahaya dan yang membawa harapan baru. Di situ juga tidak tanpa segi avontur yang selalu menandai periode-periode perubahan besar. Gereja memandang dunia maya (cyberspace) ini sebagai panggilan dan tantangan untuk berkiprah dalam mendayagunakan segala potensinya untuk pewartaan Injil. Itulah tantangan awal milenium ini dalam pesan untuk mengikuti perintah Tuhan "Bertolaklah ke tempat yang dalam ke tempat yang lebih dalam" : Duc in altum!
(Lk 5:4).

[Internet adalah sarana bukan tujuan]
3. Gereja menyikapi media baru ini dengan realisme dan rasa percaya diri. Seperti media komunikasi lainnya, media baru ini adalah suatu sarana, bukan tujuan sendiri. Internet menyediakan peluang-peluang yang bagus sekali untuk pewartaan Injil, asalkan dilandasi kompetensi dan kesadaran yang jelas akan kekuatan dan kelemahannya. Terutama dalam memberikan informasi dan menerbitkan hasrat mengenal dengan pesan-pesan kristiani khususnya bagi kaum muda, yang semakin banyak mengunjungi Internet ini untuk melihat dunia luar. Oleh karena itu sangat pentinglah umat kristiani mencari sarana yang paling praktis dalam membantu mereka, yang mulai berkenalan lewat Internet, untuk beranjak dari dunia maya (cyberspace) ke dunia nyata jemaat kristiani.

Selanjutnya Internet bisa juga memberikan tindak lanjut yang diperlukan dalam pewartaan Injil sendiri. Khususnya dalam budaya yang kurang mendukung, kehidupan kristiani memerlukan pengajaran dan katekese yang berkesinambungan. Di sinilah kiranya Internet bisa amat membantu. Di Jejaring tersedia luas sumber-sumber informasi, dokumentasi, dan pengajaran tentang Gereja, tentang sejarah dan tradisinya, doktrin-doktrin dan keterlibatannya dalam segala bidang kehidupan di seluruh dunia. Dengan demikian, jelaslah bahwa kendati Internet tidak pernah akan bisa menggantikan pengalaman yang mendalam akan Tuhan, yang hanya bisa diberikan melalui penghayatan liturgis dan sakramental Gereja yang hidup, Internet pastilah bisa menyediakan pengganti dan pendukung yang unik dalam menyiapkan perjumpaan dengan Kristus dalam jemaat, dan dalam mendukung anggota beriman yang baru pada permulaan perjalanan imannya.

[Yang virtual tidak pernah mengganti yang real]
4. Namun, pendayagunaan Internet dalam rangka pewartaan Injil memunculkan beberapa hal yang perlu bahkan harus dipertanyakan. Esensi Internet adalah kemampuannya untuk menyediakan aliran informasi yang hampir tak pernah putus; sebagaian besar informasi itu lewat dalam sekejap. Dalam budaya yang menyusu pada hal-hal bersifat sementara mengandung resiko orang bersikap mementingkan suatu hal, bukannya nilai yang terkandung di dalamnya. Internet menyodorkan pengetahuan yang bukan main banyaknya, namun tidak mengajarkan nilai; bila nilai dikesampingkan, kemanusiaan kita sendirilah yang direndahkan, dan orang akan mudah kehilangan perspektip martabat adikodratinya. Kendati begitu besar potensialnya untuk kebaikan, lobang-lobang yang merendahkan dan menjerumuskan dalam penggunaan Internet sudah begitu jelas, dan otoritas publik pastilah bertanggungjawab dalam menjamin agar sarana yang begitu menakjubkan ini melayani kebaikan umum, bukannya menjadi sumber malapetaka.

[Akumulasi pengetahuan bukan kebijaksanaan]
Lebih jauh, Internet secara radikal mengubah hubungan psikologis seseorang dengan ruang dan waktu. Perhatian orang tertuju pada hal-hal yang bisa dipegang, yang berguna, yang apa-apa yang instan; stimulus untuk pemahaman dan permenungan yang lebih mendalam kurang. Padahal manusia mempunyai kebutuhan vital untuk saat-saat dan batin yang hening untuk merenungkan dan meneliti hidup dan rahasia-rahasianya, dan untuk berkembang secara bertahap menuju kematangan penguasaan diri dan dunia sekitarnya. Pengetahuan dan kebijaksanaan adalah buah kontemplasi, bukan hasil akumulasi fakta, betapa pun menariknya. Pengetahuan dan kebijaksanaan adalah buah sebuah wawasan atas makna yang lebih mendalam dari suatu hal dalam hubungannya dengan satu sama lain, maupun dengan dunia seluruhnya. Apalagi, sebagai sebuah forum di mana secara praktis semuanya diterima dan hampir tidak ada hal yang tahan lama, Internet cenderung ke pemikiran yang relativistik dan kerap kali mendorong orang untuk melarikan diri dari tanggungjawab dan keterlibatan personal.

Dalam konteks di atas, bagaimana kita akan menanamkan pengertiaan bahwa kebijaksanan tidak mengalir dari tumpukan informasi melainkan dari pengertiaan yang lebih mendalam, bahwa kebijaksanaan membedakan yang benar dari yang salah dan memberikan bobot nilai sesuai dengan pembedaan itu?

[Internet terobosan baru, tanpa menggantikan kontak personal]
5. Melalui Internet dimungkinkan jenis-jenis komunikasi dan kecepatan yang tak terbayangkan sebelumnya. Benar, aspek Internet ini membuka peluang-peluang yang menarik bagi pewartaan Injil. Akan tetapi juga benar bahwa hubungan-hubungan melalui media elektronik tidak akan pernah bisa menggantikan kontak personal yang diperlukan dalam penginjilan yang sejati. Karena pewartaan Injil selalu tergantung pada kesaksian personal dari orang yang diutus untuk mewartakan (bdk. Rom 10:14-15). Bagaimana caranya Gereja melangkah dari jenis kontak yang dimungkinkan Internet ke komunikasi yang lebih mendalam sebagaimana dituntut dalam pewartaan kristiani? Bagaimana kita membangun berlandaskan kontak awal dan pertukaran informasi yang dimungkinkan Internet?

Tidak bisa diragukan lagi revolusi elektronik menjanjikan terobosan-terobosan positip untuk dunia yang sedang berkembang; akan tetapi juga terdapat kemungkinan bahwa justru akan memperburuk ketidaksetaraan yang ada sekarang karena semakin melebarnya jurang informasi dan komunikasi. Bagaimakah kita bisa menjamin bahwa revolusi informasi dan komunikasi, yang motor utamanya Internet, akan berfungsi demi globalisasi kemajuan dan solidaritas manusia, yang merupakan tujuan yang erat terkait dengan misi pewartaan Gereja?

[Internet lahir di dunia militer bisa untuk perdamaian dunia?]
Akhirnya, dalam jaman yang penuh masalah ini, bolehlah saya bertanya: Bagaimanakah kita menjamin alat yang mengagumkan yang dulu diciptakan dalam konteks operasi militer sekarang dapat melayani usaha-usaha perdamaian?
Dapatkah alat ini berpihak pada budaya dialog, partisipasi, solidaritas dan rekonsiliasi tanpa mana perdamaian tidak akan berkembang? Gereja percaya bahwa hal itu bisa; dan untuk menjamin bahwa itulah yang akan terjadi, Gereja memutuskan untuk masuk dalam gelanggang forum yang baru ini, dilengkapi dengan Injil Kristus, Pangeran Perdamaian.

[Di Internet wajah Kristus perlu tampil juga]
6. Internet menampilkan bermilyar-milyar gambar di jutaan monitor komputer di seluruh jagad. Dari galaksi gambar dan suara akan tampilkah wajah Kristus dan terdengarkankah suara-Nya? Karena hanya kalau wajahnya terlihat dan suaranya terdengarkan dunia akan mengetahui kabar gembira dari penebusan kita. Inilah tujuan pewartaan Injil. Dan inilah yang akan menjadikan Internet sebuah ruang kemanusiaan yang sejati, karena kalau tidak tersedia ruang untuk Kristus, tidak akan ada ruang untuk manusia.

[Marilah melintasi ambang budaya baru ini: Internet!]
Oleh karena itu, pada Hari Komunikasi Sedunia ini, saya dengan tegas memutuskan untuk mengundang seluruh Gereja untuk dengan berani melintasi ambang pintu yang baru ini, untuk mengayuh ke kedalaman Jaringan (Net) ini, sehingga sekarang sebagaimana dulu interaksi antara Injil dan budaya dapat memperlihatkan kepada dunia "kemuliaan Allah di wajah Kristus" (2 Kor 4:6). Semoga Tuhan memberkati semua yang berkerja demi tujuan ini.


Vatikan, 24 Januari 2002,

Pesta Santo Fransiskus dari Sales

Yohanes Paulus II

Wednesday, December 27, 2000

SGK 2001


Wartakan dari atap rumah

Injil di Jaman Komunikasi Global



Surat Gembala Paus Yohanes Paulus II

pada hari Komunikasi Sosial XXXV 27 MEI 2001


1. Tema yang telah saya pilih untuk Hari Komunikasi Sosial sedunia 2001 menggemakan kata-kata Yesus sendiri. Tidak dapat lain, karena hanya Kristuslah yang kita wartakan. Kita ingat kata-kataNya kepada para murid pertama: "Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah" (Matius 10:27). Pada kedalaman hati nurani kita, kita telah mendengar kebenaran tentang Yesus; sekarang kita harus mewartakan kebenaran itu dari atap rumah.

Dalam dunia sekarang, atap rumah sudah ditandai dengan hutan transmisi dan antena yang mengirimkan dan menerima pesan dari beraneka ragam ke dan dari empat penjuru dunia. Sungguh sangat mendasar untuk memperoleh jaminan bahwa diantara begitu banyak pesan itu sabda Allah didengarkan. Untuk mewartakan iman dari atap rumah berarti mengatakan kata Yesus dalam dan melalui dunia komunikasi yang dinamis.

2. Dalam semua budaya dan jaman - yakni di tengah transformasi global jaman ini - manusia menyampaikan pertanyaan mendasar tentang makna hidup: Siapakah aku? Dari mana dan ke manakah aku? Mengapa ada kejahatan? Apa yang terjadi sesudah hidup di dunia ini? (bdk. Fides et Ratio, 1). Dan di setiap jaman Gereja mempersembahkan satu jawaban yang sangat mendasar dan memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan yang merasuki hati manusia - Yesus Kristus sendiri "yang sepenuhnya mewahyukan manusia kepada dirinya sendiri dan menerangi panggilannya" (Gaudium et Spes 22). Maka, suara umat Kristiani tak pernah dapat diredam, karena Tuhan telah mempercayakan kepada kita sabda keselamatan yang memenuhi kerinduan hati setiap insan. Injil memberikan mutiara berharga yang dicari oleh semua orang (bdk. Matius 13:45-46).

Gereja sendiri tak dapat mundur dari keterlibatan aktif dalam dunia komunikasi sosial yang menawarkan diri. Jaringan komunikasi global sedang meluas dan berkembang semakin kompleks semakin harinya, dan media sedang memiliki perkembangan pengaruh yang dapat dilihat terhadap budaya dan perkembangannya. Kalau dulu media melaporkan peristiwa-peristiwa, sekarang peristiwa-peristiwa seringkali dibentuk sesuai dengan tuntutan media. Maka, hubungan antara kenyataan dan media telah menjadi semakin ruwet, dan mewujud sebagai gejala yang mendua. Di satu pihak, perbedaan tegas antara kebenaran dan ilusi dikaburkan; tetapi di lain pihak, dibuka kesempatan yang belum pernah diramalkan untuk membuat kebenaran menjadi lebih luas diterima oleh semakin banyak orang. Tugas Gereja adalah menjamin bahwa yang terakhir itulah yang terjadi.

3. Dunia media kadangkala dapat nampak tidak jelas dan malah bersikap memusuhi iman dan moral Kristen. Sebabnya adalah antara lain karena budaya media begitu mendalam dipengaruhi oleh gaya hidup post-modernisme sehingga yang menjadi kebenaran mutlak adalah bahwa tidak ada kebenaran mutlak atau bahwa, kalau pun ada, kebenaran-kebenaran itu tak dapat dijangkau oleh akal manusia dan karena itu menjadi tidak relevan. Dalam pandangan sedemikian, masalahnya bukanlah kebenaran tetapi "pengolahannya"; kalau ada hal yang pas untuk diwartakan atau menyenangkan, godaan untuk menyingkirkan pertimbangan-pertimbangan kebenaran sangat besar kemungkinannya tak dapat dielakkan lagi. Hasilnya, dunia media seringkali dapat nampak sebagai suatu lingkungan yang tidak ramah bagi evangelisasi dibanding dengan dunia kafir pada jaman para rasul. Namun sebagaimana para saksi semula Kabar Gembira tidak mundur ketika menghadapi perlawanan, demikian juga hendaknya para pengikut Kristus jaman ini. Seruan Santo Paulus masih terus menggema di antara kita: "Celakalah aku jika aku tidak mewartakan Injil!" (1 Korintus 9:16).

Kendati banyak kali dunia media nampak bertentangan dengan warta Kristiani, dunia media juga memberi kesempatan unik untuk mewartakan kebenaran Kristus yang menyelamatkan kepada seluruh umat manusia. Lihatlah, misalnya, siaran satelit perayaan-perayaan liturgi yang seringkali menjangkau pemirsa dari seluruh dunia, atau kemampuan positif dari internet untuk menyalurkan informasi dan pengajaran rohani melampaui semua penghalang dan rintangan. Maka yang dibutuhkan pada jaman kita adalah penyerapan yang aktif dan imaginatif dari media oleh Gereja. Umat Katolik hendaknya tidak takut membuka pintu-pintu dunia komunikasi sosial untuk Kristus, sehingga Kabar GembiraNya dapat didengarkan dari atap-atap dunia.

4. Juga sangat penting bahwa pada awal milenium baru ini kita tetap melaksanakan missi kepada bangsa-bangsa yang telah dipercayakan Kristus kepada Gereja. Diperkirakan dua per tiga dari enam milyard manusia tidak mengenal Yesus Kristus dengan baik; dan banyak dari mereka hidup di negara-negara yang dulunya berakar Kristen, di mana keseluruhan kelompok-kelompok yang telah dibaptis itu telah kehilangan kepekaan yang hidup akan iman, atau tidak lagi memandang diri mereka anggota Gereja dan hidup terpisah dari Tuhan dan InjilNya (bdk. Redemptoris Missio, 33). Jelas, tanggapan yang berdayaguna terhadap situasi ini menuntut lebih banyak lagi daripada hanya media; namun dalam berusaha menghadapi tantangan umat Kristiani tak dapat mengabaikan dunia komunikasi sosial. Memang, media dari berbagai macam bentuk dapat memainkan peran mendasar dalam evangelisasi langsung dan dalam membawa manusia kepada kebenaran-kebenaran dan nilai-nilai yang mendukung dan meningkatkan martabat mausia. Kehadiran Gereja dalam media nyatanya menjadi segi penting dari inkulturasi Injil yang dituntut oleh evangelisasi baru yang dijiwai oleh Roh Kudus yang sedang berkotbah kepada Gereja di seluruh dunia.

Karena seluruh Gereja berusaha merindukan panggilan Roh, para komunikator kristiani memiliki "tugas kenabian, panggilan: untuk mewartakan melawan allah-allah dan berhala-berhala palsu jamannya - materialisme, hedonisme, konsumerisme, nationalisme sempit …." (Ethics in Communications, 31). Lebih dari semua itu, mereka memiliki kewajiban dan privilese untuk menerangkan kebenaran - kebenaran yang agung tentang hidup manusia dan tujuan hidupnya yang diwahyukan dalam Sabda yang menjadi daging. Semoga umat Katolik terlibat dalam dunia komunikasi sosial mewartakan kebenaran Yesus dengan lebih apa adanya dan sukacita dari atap rumah, sehingga semua manusia laki-laki dan perempuan dapat mendengarkan kasih yang merupakan inti dari komunikasi Allah sendiri dalam Yesus Kristus, yang sama sejak kemarin, hari ini, dan selama-lamanya (bdk. Hib 13:8).

Dari Vatikan, 24 Januari 2001
Peringatan Santo Fransiskus de Sales

Tuesday, December 26, 2000

SGK 2000

MEMAKLUMKAN KRISTUS

DALAM MEDIA

PADA FAJAR MILENIUM BARU

Paus Yohanes Paulus II,

Pesan pada hari Media se-Dunia 2000,

24 Januari 2000

Saudara-saudari terkasih,

Tema hari komunikasi Sosial se-Dunia ke tiga puluh empat, Memaklumkan Kristus dalam Media pada fajar Milenium Baru, merupakan undangan untuk menatap ke depan segala tantangan yang kita hadapi, dan juga kembali kepada fajar iman Kristiani, untuk menggali terang dan kekuatan yang kita perlukan. Inti pesan yang kita maklumkan selalu tentang Yesus sendiri: “seluruh sejarah manusia pada kenyataannya tertuju kepada Dia: jaman kita dan masa depan dunia diterangi oleh kehadiranNya” (Incarnationis Mysterium, 1).

Bab-bab awal dari Kisah Para Rasul memuat gambaran yang dinamis mengenai pemakluman Kristus oleh para muridNya – suatu pemakluman yang sekaligus spontan, sarat iman, dan persuasif, dan diresapi kuasa Roh Kudus.

Yang pertama dan paling penting, para murid memaklumkan Kristus sebagai tanggapan atas tugas perutusan yang diberikanNya kepada mereka. Sebelum naik ke surga Ia berkata kepada para Rasul: “kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kis 1:8). Dan meskipun mereka adalah “orang biasa dan tidak terpelajar” (Kis 4:13), cepat tanggap dan dengan sepenuh hati.

Sesudah beberapa waktu lamanya dalam doa bersama Maria dan pengikut Tuhan yang lain, dan bertindak atas dorongan Roh, para Rasul memulai karya pemakluman pada Pentakosta (bdk. Kis 2). Ketika kita membaca peristiwa-peristiwa yang mengagumkan itu, kita diingatkan bahwa sejarah komunikasi adalah semacam perjalanan, dari proyek menara Babel yang didorong oleh kesombongan dan mengakibatkan kehancuran karena semua menjadi kacau dan tak dapat saling memahami (bdk. Kej 11:1-9), menuju peristiwa Pentakosta dan anugerah bahasa roh: suatu perbaikan komunikasi, yang berpusat pada Yesus, melalui karya Roh Kudus. Maka memaklumkan Kristus terarah pada perjumpaan antar manusia dalam iman dan kasih dalam tingkat kemanusiaannya yang terdalam, Tuhan yang bangkit sendiri menjadi perantara komunikasi sejati antar sesama dalam Roh.

Pentakosta hanyalah permulaan. Bahkan ketika diancam dengan hukuman, para rasul tidak mundur untuk memaklumkan Tuhan: “Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar”, kata Petrus dan Yohanes di hadapan Sanhedrin (Kis 4:20). Memang, penganiayaan sendiri menjadi sarana bagi karya perutusan itu. Ketika pengejaran yang gencar terjadi di Yerusalem sesudah kemartiran Stefanus, para pengikut Kristus terpaksa melarikan diri, “Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil” (Kis 8:4)

Inti pesan yang hidup yang diwartakan para Rasul adalah penyaliban dan kebangkitan Yesus – kemenangan hidup melawan dosa dan maut. Petrus berkata kepada Kornelius dan hambanya: “…. mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib. Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, …. Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati. Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepadaNya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena namaNya.” (Kis 10:39-43).

Hal tersebut berlangsung tanpa memperhitungkan bahwa situasi telah berubah sangat cepat dalam dua milenium. Namun kebutuhan yang sama untuk memaklumkan Kristus masih tetap ada. Kewajiban kita untuk menjadi saksi akan wafat dan kebangkitan Yesus dan akan kehadiranNya yang menyelamatkan dalam hidup kita sekarang begitu nyata dan mendesak sebagaimana kewajiban murid-murid yang pertama dulu. Kita harus mewartakan kabar baik kepada semua orang yang terbuka untuk mendengarkan.

Pemakluman secara langsung, pribadi – satu orang membagikan iman akan Tuhan yang bangkit kepada sesamanya – begitu mendasar; demikian juga bentuk-bentuk tradisional yang lain dalam penyebaran sabda Allah. Namun, bersamaan dengan ini, pemakluman jaman ini harus juga terlaksana di dalam dan melalui media. “Gereja akan merasa bersalah di hadapan Tuhan kalau tidak menggunakan sarana-sarana yang ampuh ini” (Paus Paulus VI, Evangelii Nuntiandi, 45).

Pengaruh yang kuat dari media di dunia sekarang ini dapat begitu dilebih-lebihkan. Datangnya masyarakat informasi merupakan revolusi budaya yang nyata, yang membuat media menjadi “Areopagus utama dari jaman modern” (Redemptoris Missio, 37), dimana kenyataan dan gagasan dan nilai terus menerus dipertukarkan. Melalui media, manusia berhubungan dengan manusia lain dan aneka peristiwa, dan membentuk pemahaman mereka tentang dunia yang mereka diami – sungguh, membentuk pengertian mereka tentang makna kehidupan. Bagi banyak orang, pengalaman akan hidup sebagian besar terwujud dalam pengalaman akan media (bdk. Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial, Aetatis Novae, 2). Pemakluman Kristus harus menjadi bagian dari pengalaman ini.

Biasanya, dalam memaklumkan Tuhan, Gereja harus mendayagunakan secara aktif dan terampil segala sarana komunikasinya – buku-buku, suratkabar dan buletin, radio, televisi, dan sarana-sarana lain. Dan para komunikator katolik harus berani dan kreatif dalam mengembangkan media dan metode baru untuk pemakluman itu. Namun, sebanyak mungkin, Gereja juga harus menggunakan segala kesempatan yang tersedia di media sekular.

Media sudah menyumbangkan kekayaan rohani dengan berbagai cara – misalnya, banyaknya program khusus yang ditayangkan kepada para pemirsa seluruh dunia melalui sarana telekomunikasi satelit selama tahun Yubileum Agung. Namun, di sisi lain, mereka menampilkan sikap tidak peduli, bahkan bersifat memusuhi, terhadap Kristus dan pesanNya yang ada di bagian-bagian tertentu dari kebudayaan sekular. Kendati demikian, ada kebutuhan untuk semacam “penelitian batin” pada bagian dari media, yang membawa kepada kesadaran yang lebih kritis mengenai penyimpangan atau kekurang-hormatan terhadap sikap beragama (religiositas) manusia dan keyakinan-keyakinan moral.

Penampilan media yang menarik perhatian kepada kebutuhan-kebutuhan dasar manusia, khususnya mereka yang lemah, yang tertindas dan tersingkir, dapat menjadi pemakluman secara tidak langsung (implisit) akan Tuhan. Namun, disamping pemakluman secara tidak langsung (implisit), para komunikator kristiani hendaknya juga mencari cara-cara untuk berbicara secara langsung (eksplisit) akan wafat dan kebangkitan Yesus, akan kemenanganNya atas dosa dan maut, dan dengan cara yang cocok dengan sarana yang digunakan dan sesuai dengan kemampuan para penerimanya.

Untuk melaksanakan dengan baik dituntut pendidikan dan kemampuan profesional. Namun juga menuntut lebih lagi. Untuk menjadi saksi Kristus perlulah berjumpa denganNya secara pribadi dan mengedepankan hubungan denganNya dalam doa, Ekaristi dan sakramen tobat, membaca dan merenungkan sabda Allah, mempelajari ajaran Kristiani, dan melayani sesama. Dan selalu, kalau memang sungguh-sungguh asli, pasti merupakan karya Roh lebih daripada karya kita sendiri.

Untuk memaklumkan Kristus tidak hanya merupakan kewajiban tetapi juga hak istimewa. “Perjalanan dari umat beriman menuju milenium ke tiga sama sekali tidak tertindih keletihan yang dapat ditimbulkan oleh beban sejarah selama dua ribu tahun yang lalu. Justru sebaliknya, orang-orang Kristiani merasa disegar-kuatkan, karena mereka mengetahui bahwa mereka membawakan dunia terang sejati, yaitu Kristus Tuhan. Dengan mewartakan Yesus dari Nazaret, Allah benar-benar dan Manusia sempurna, Gereja membukakan kepada semua orang prospek “menjadi ilahi” dan dengan demikian menjadi lebih manusiawi. “ (Incarnationis Mysterium, 2)

Yubileum Agung 2000 tahun kelahiran Yesus di Betlehem harus menjadi kesempatan dan tantangan bagi para murid Tuhan untuk memberi kesaksian dalam dan melalui media mengenai hebatnya mewartakan kabar gembira dan karya penyelamatan kita yang membawa penghiburan. Dalam “tahun rahmat” ini, semoga media menyerukan tentang Yesus sendiri, dengan jelas dan sukacita, dalam iman, harapan dan kasih. Pemaklumkan Kristus di media pada fajar milenium baru ini bukan hanya bagian penting dari tugas perutusan Gereja untuk berevangelisasi; melainkan juga pemberian inspirasi dan kekayaan yang penuh pengharapan melalui berita media. Semoga Allah dengan berlimpah-limpah memberkati semua orang yang menghormati dan memaklumkan PuteraNya, Tuhan kita Yesus Kristus, dalam dunia sarana komunikasi sosial yang sangat luas.

Vatican, 24 January 2000

YOHANES PAULUS II

Monday, December 25, 2000

SGK 1999

Mass Media:

Sahabat yang ramah

Pesan Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II

untuk Hari Komunikasi Sosial se-Dunia yang ke-33.

Saudara-saudariku yang terkasih,

1. Kita mendekati Jubileum Agung tahun 2000 dari kelahiran Yesus Kristus, Sabda Allah yang menjadi manusia, perayaan yang akan membuka pintu millenium Kristiani yang ketiga. Dalam tahun persiapan yang terakhir ini, Gereja memandang Allah Bapa kita, merenungkan misteri belaskasihanNya yang tanpa batas. Dialah Allah asal segala kehidupan dan yang kepadaNya semua akan kembali; dan Dialah Satu-satunya yang berjiarah bersama kita sejak lahir sampai kematian kita, sebagai teman dan sahabat dalam perjalanan.

Saya telah memilih “Mass media: sahabat yang ramah bagi semua orang yang mencari Bapa”sebagai tema untuk Hari Komunikasi se-Dunia tahun ini. Dua pertanyaan yang dapat digali dari tema ini: bagaimana media bekerjasama dengan dan bukannya melawan Allah? Dan bagaimana media dapat menjadi sahabat yang ramah bagi setiap orang yang mengusahakan kehadiran Allah Mahakasih dalam hidup mereka? Termaktub juga di dalamnya pernyataan mengenai kenyataan dan alasan untuk bersyukur: bahwa media dalam setiap saat memberi kemungkinan bagi setiap orang yang mencari Allah dengan cara yang baru untuk membaca baik buku kodrati, yang merupakan bidang akal budi, dan buku wahyu, Kitab Suci, yang merupakan bidang iman. Akhirnya tema ini mencakup juga ajakan dan pengharapan: bahwa setiap orang yang terlibat dalam dunia komunikasi sosial akan menjadi semakin terlibat untuk membantu bukannya menghalangi pencaharian terhadap makna kehidupan yang merupakan inti kehidupan manusia.

2. Menjadi manusia berarti terus menerus mencari; dan, sebagaimana saya tekankan dalam Ensiklik yang terdahulu Fides et ratio, semua pencaharian berakhir dengan mencari Allah: “Iman dan akal budi itu seperti sisi dari dua sayap roh manusia yang menuju permenungan akan kebenaran; dan Allah telah menempatkan dalam hati manusia kerinduan untuk mengenal kebenaran - dengan kata lain, untuk mengenal dirinya sendiri - sehingga, dengan mengetahui dan mengasihi Allah, setiap orang juga dapat semakin mengenal kebenaran tentang diri mereka sendiri”. (n. 1). Jubileum Agung akan menjadi sebuah perayaan akan Allah yang tujuan akhir pencaharian umat manusia, yaitu suatu perayaan akan belaskasihan tanpa batas yang dirindukan oleh setiap orang - kendati mereka seringkali mengalami diri mereka sendiri dibelenggu oleh dosa , seperti diungkapan Santo Agustinus, seperti mencari yang baik di tempat yang salah (bdk. Confessions, X, 38). Kita berdosa kalau kita mencari Allah dimana Ia tak dapat ditemukan.

Oleh karena itu, dalam berbicara kepada “semua orang yang mencari Bapa”, tema Hari Komunikasi se-Dunia tahun ini menyentuh setiap orang. Semua orang mencari, kendati tidak semua mencari di tempat yang tepat. Tema ini mengakui pengaruh khusus dari media dalam kebudayaan modern, dan karena itu media bertanggungjawab untuk memberi kesaksian mengenai kebenaran tentang kehidupan, tentang martabat manusia, tentang makna yang benar mengenai kebebasan dan ketergantungan satu sama lain.

3. Dalam pejiarahan manusia yang mencari, Gereja berkehendak menjadikan media sahabat sambil menyadari bahwa setiap bentuk kerjasama akan dilaksanakan demi kebaikan setiap orang. Kerjasama juga berarti bahwa kita lebih baik lagi saling mengenal satu sama lain. Berulangkali, hubungan antara Gereja dan media dapat dirusak oleh kesalahpahaman satu sama lain yang menghasilkan ketakutan dan saling tidak percaya. Memang benar bahwa budaya Gereja dan budaya media itu berbeda; bahkan pada titik-titik tertentu perbedaan itu sangat tajam. Namun tak ada alasan untuk mengatakan bahwa perbedaan menutup kemungkinan membangun persahabatan dan dialog. Dalam banyak persahabatan yang mendalam, persis perbedaan-perbedaanlah yang mendorong tumbuhnya kreatifitas dan jembatan penghubung.

Budaya berbobot/bermutu dalam Gereja dapat menyelamatkan budaya media mengenai berita-berita ringan yang dapat menimbulkan bahaya sikap tidakpeduli yang menghancurkan pengharapan; dan media dapat membantu Gereja untuk mewartakan Injil dalam semua semangatnya dalam kenyataan hidup manusia setiap hari. Budaya kebijaksanaan dalam Gereja dapat menyelamatkan budaya informasi dalam media dari bahaya penumpukan fakta-fakta yang tak berarti; dan media dapat membantu kebijaksanaan Gereja untuk tetap menampilkan pengetahuan-pengetahuan baru yang sekarang marak. Budaya sukacita dalam gereja dapat menyelamatkan budaya hiburan dalam media dari bahaya menjadi pelarian hampa dari kebenaran dan tanggungjawab; dan media dapat membantu Gereja untuk mengetahui dengan lebih baik bagaimana berkomunikasi dengan orang-orang dengan cara yang menarik dan menyenangkan. Inilah beberapa contoh bagaimana kerjasama dalam semangat persahabatan dan dalam taraf yang lebih mendalam dapat membantu baik Gereja maupun media untuk melayani setiap orang pada jaman kita dalam pencaharian mereka akan makna dan kesempurnaan.

4. Dengan ledakan teknologi informasi jaman ini, kemungkinan untuk komunikasi antar pribadi dan kelompok di setiap bagian dunia telah menjadi semakin besar. Namun, sekaligus, kekuatan-kekuatan tertentu yang dapat memimpin kepada komunikasi yang lebih baik juga dapat menjerumuskan kepada pemusatan kepentingan sendiri dan keterasingan. Kita menemukan diri kita sendiri dalam jaman yang sekaligus mengancam dan menjanjikan. Tak seorangpun yang berkehendak baik ingin mengancam menggunakan cara yang dapat membuat manusia tetap dalam penderitaan - setidak-tidaknya pada akhir suatu abad dan suatu millenium yang sudah terlalu dilimpahi penderitaan.

Marilah memandang dengan pengharapan yang besar kepada milenium yang baru, percaya bahwa ada orang-orang baik dalam Gereja maupun di kalangan media yang siap bekerjasama untuk menjamin bahwa janji mengalahkan ancaman, komunikasi mengalahkan keterasingan. Ini akan menjamin bahwa dunia media lebih dan semakin menjadi sahabat yang ramah bagi semua orang, dengan menghadirkan diri melalui berita-berita yang mendalam, informasi yang bijaksana, hiburan yang menuju sukacita. Hal ini juga menjamin suatu dunia dimana Gereja dan media dapat bekerjasama untuk kebaikan umat manusia. Itulah yang dituntut jika kuasa media tidak akan dijadikan kekuatan yang menghancurkan, melainkan kasih yang menciptakan, kasih yang mencerminkan kasih Allah “yang satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.” (Efesus 4:6).

Semoga semua yang berkarya dalam dunia Komunikasi Sosial mengalami sukacita penyertaan ilahi, sehingga dengan menyadari persahabatan Allah mereka mampu membangun persaudaraan semua orang dalam pejiarahan ke rumah Bapa, yang baginya hormat dan kemuliaan, pujian dan syukur, bersama Putera dan Roh Kudus, sepanjang segala masa.

24 Januari 1999,

pesta Santo Fransiskus de Sales.

Yohanes Paulus II.

Saturday, December 23, 2000

SGK 1997

MENGKOMUNIKASIKAN

YESUS KRISTUS

JALAN, KEBENARAN DAN HIDUP


Amanat Bapa Suci Yohanes Paulus II pada

HARI KOMUNIKASI SEDUNIA KE 31 11 MEI 1997




Saudara-saudari yang terkasih,

Pada saat abad sekarang ini dan milineum semakin mendekat, kita menyaksikan perkembangan sarana sarana komunikasi sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya yang menghasilkan produksi produksi yang selalu baru dan jasa jasa. Kita lihat bahwa kehidupan banyak orang semakin dijamah oleh perkembangan tehnologi informasi dan komunikasi yang baru, namun masih cukup banyak orang yang tidak dapat memiliki dan menggunakan media, baik yang baru maupun yang kuno.

Mereka yang memanfaatkan perkembangan baru ini merasakan bahwa semakin bertambahlah kemungkinan untuk memilih sumber sumber yang ada. Semakin besar pilihan yang tersedia, maka semakin berat pula untuk bisa memilih secara tanggungjawab. Kenyataan yang ada ialah bahwa semakin sulitnya untuk melindungi mata dan telinga kita dari gambar-gambar dan suara yang datang kepada kita melalui media, yang tidak terduga dan tanpa diundang. Sangatlah berat bagi orang tua untuk menjaga anak an ak mereka dari pesan pesan yang tidak sehat, serta untuk menjamin bahwa pendidikan mereka dalam hubungan antar sesama dan pengetahuan mereka mengenai dunia terjadi dengan cara yang sesuai dengan usia mereka dan kepekaan mereka, dan perkembangan mereka dsalam membedakan antara yang benar dengan yang salah. Pendapat umum masyarakat tergoncangkan karena betapa mudahnya teknologi komunikasi yang maju dapat disalah gunakan oleh orang orang yang punya maksud jahat.

Pada saat yang sama, kita dapat mengamati betapakah cukup lambannya orang orang yang ingin berbuat baik mengunakan peluang peluang yang sama tadi ?

Kita harus berharap agar jurang yang ada antara orang-orang yang dapat memanfaatkan sarana-sarana informasi dan cara mengungkapkan yang baru, dengan mereka yang belum bisa memanfaatkan hal tadi tidak akan menjadi suatu sumber lain dalam hal ketimpangan dan diskriminasi yang tak terkendalikan lagi. Di beberapa bagian dunia muncul suara suara menentang hal-hal yang dianggap sebagai dominasi dari media yang dipengaruhi budaya barat. Produk-produk media komunikasi dalam arti tertentu dianggap menggambarkan nilai-nilai hidup yang dianggap berharga di Barat, dan secara tidak langsung juga dianggap menggambarkan nilai-nilai Kristiani.

Yang terjadi sebenarnya ialah sebagian besar dari nilai-nilai hidup yang digambarkan dalam media tadi adalah keuntungan komersial semata-mata.

Selain dari itu program program, media yang menyangkut aspirasi keagamaan dan kerohanian, program-program yang secara moral meningkatkan dan membantu orang orang agar dapat hidup dengan lebih baik, rupa-rupanya semakin berkurang jumlahnya. Tidak mudahlah untuk tetap bersikap optimis terhadap pengaruh positif dari media komunikasi massa, karena mereka kelihatannya tidak mengakui peranan yang penting dari agama dalam hidup manusia, atau kalau sikap atau perlakuan mereka terhadap keyakinan agama rupa rupanya selalu bersikap negatif dan tidak simpatik. Beberapa unsur dalam media lebih lebih dalam hiburan kerapkali ingin melukiskan orang-orang beragama dalam sorotan sejelek mungkin.

Apakah masih ada tempat bagi Kristus dalam media massa yang baru?

Di dalam Gereja, tahun 1997 sebagai bagian pertama dari masa persiapan selama tiga tahun untuk menyambut Yubileum Agung tahun 2000, dipersembahkan untuk merenungkan mengenai Kristus, Sabda Allah, yang menjadi manusia karena kuasa roh Kudus (bdk Tertio Millenio Adveniente, 30). Maka sangat tepatlah bahwa tema hari Komunikasi kali ini ialah: "Mengkomunikasikan Yesus Kristus: Jalan, Kebenaran Dan Hidup " (bdk Yoh 14:6).

Tema ini merupakan suatu kesempatan bagi Gereja untuk merenungkan dan melakukan sumbangan khusus yang dapat diberikan media komunikasi dalam memperkenalkan kabar baik keselamatan dalam komunikator profesional untuk merefleksikan atau merenungkan bagaimana tema-tema keagamaan dan tema-tema yang khas Kristiani serta nilai-nilai Kristiani dapat memperkaya produksi produksi media serta kehidupan dari mereka yang dilayani oleh media.

Media modern diarahkan bukan hanya kepada kaum muda dan juga kepada anak-anak yang masih sangat muda "Jalan apakah yang ditunjukkan oleh media komunikasi? Kebenaran macam apakah yang dikemukakan oleh media massa? Kehidupan macam apakah yang mereka tawarkan?.

Hal ini harus menjadi keprihatinan bukan hanya orang-orang Kristen, tapi juga semua yang berkehendak baik.

Jalan Kristus adalah jalan yang penuh keutamaan, kehidupan yang produktif dan penuh damai sebagai anak-anak Allah dan sebagai saudara serta saudari dalam keluarga umat manusia yang sama.

"Kebenaran" Kristus adalah kebenaran abadi Allah, yang telah mewahyukan DiriNya sendiri kepada kita bukan hanya dalam ciptaan tapi juga melalui Kitab Suci dan lebih lebih melalui putraNya Yesus Kristus, Sabda yang menjadi manusia. Dan kehidupan Kristus adalah rahmat, kurnia bebas dari Allah yang merupakan keikutsertaan dalam hidupNya sendiri dan yang memungkinkan kita untuk hidup selama-lamanya dalam kasihNya. Bila orang orang kristiani yakin sungguh-sungguh akan hal ini, hidup mereka berubah . Perubahan ini bukan hanya terwujud dalam suatu kesaksian yang patut dipercaya dan mempesona tapi juga dalam suatu komunikasi ysng mendesak dan efektif dari suatu iman yang hidup yang secara paradoksal justru berkembang dengan dibagikan kepada orang lain. Hal ini juga dilakukan melalui media komunikasi.

Merupakan suatu yang menghibur kita bahwa semua orang yang menamakan diri kristen juga mempunyai keyakinan yang sama. Dengan menaruh rasa hormat kepada aktivitas komunikasi dari Gereja-gereja secara individual dan jemaat-jemaat gerejani, akan merupakan suatu keberhasilan ekumenis yang berarti bila orang-orang kristen dapat saling bekerja sama dengan lebih erat dalam media pada saat mereka mempersiapkan diri untuk merayakan Yubileum Agung yang akan datang. (bdk Tertio Millenio Adveniente, 41). Semua hal harus kita pusatkan pada satu sasaran yang utama dari Yubileum yaitu memperkuat iman dan kesaksian kristiani (Ibid, 42).

Menyiapkan perayaan Ulang Tahun ke 2000 kelahiran Sang Penebus merupakan kunci untuk menafsirkan apa ysang dikatakan oleh Roh Kudus kepada Gereja dan Gereja-gereja pada saat sekarang ini (bdk ibid, 23). Media massa mempunyai peranan penting dalam mewartakan dan menjelaskan rahmat ini kepada jemaat kristiani sendiri dan seluruh dunia.

Yesus yang sama yang adalah "Jalan, kebenaran, dan kehidupan" juga merupakan "cahaya dunia" cahaya yang menyinari jalan hidup kita, cahaya yang memungkinkan kita menangkap kebenaran, cahaya Sang Putra yang memberikan hidup kekal kepada kita sekarang ini dan di dalam kehidupan kekal. Dua ribu tahun yang telah berlalu sejak kelahiran Yesus Kristus merupakan suatu peringatan yang luar biasa bagi manusia secara keseluruhan, dan memberikan peranan penting yang telah dilakukan oleh agama Kristen selama dua millenium ini (bdk ibid 15) Maka sangatlah tepat kalau media massa memberikan penghormatan terhadap sumbangan tadi.

Mungkin salah satu persembahan terbagus yang dapat kita persembahkan kepada Yesus Kristus pada ulang tahun kedua ribu kelahiranNya adalah bahwa Kabar Baik pada akhirnya diperkenalkan kepada setiap orang didunia ini. Pertama-tama dengan melalui kesaksian hidup dari teladan orang kristiani, tetapi juga melalui media.

"Mengkomunikasikan Yesus Kristus Jalan Kebenaran dan Kehidupan" Semoga hal ini merupakan tujuan dan keterlibatan dari semua orang yang mengakui kekhususan Yesus kristus, sumber kehidupan dan kebenaran (bdk Yoh 5:26.10; 10:28 ) dan yang mempunyai kedudukan istimewa dan tanggung jawab untuk bekerja dalam dunia komunikasi sosial yang luas dan sangat berpengaruh ini.

Diberikan di Vatikan, tanggal 24 Januari 1997

Johanes Paulus II

alih bahas : Mgr. J. Hadiwikarta Pr

Ketua Komisi Komsos KWI

Friday, December 22, 2000

SGK 1996

FORUM MODERN

UNTUK MENINGKATKAN

PERANAN WANITA

DI DALAM MASYARAKAT

HARI KOMUNIKASI SEDUNIA KE 29 19 MEI 1996

Amanat Bapa Suci

Yohanes Paulus II

Saudara-saudariku yang terkasih,

Tahun lalu surat saya kepada kaum wanita itu, saya berusaha memajukan dialog, khususnya dengan wanita-wanita itu sendiri, mengenai artinya menjadi wanita di jaman kita (bdk. n. 1) juga saya menyebutkan beberapa halangan yang di pelbagai bagian dunia mencegah wanita berintegrasi sempurna dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi. (n. 4). Inilah dialog yang dapat dan harus dimajukan dan didukung oleh mereka yang berkarya di media komunikasi. Mereka itu sering juga menjadi -dan ini patut dipuji- penyokong orang yang tak bersuara dan yang digeser ke pinggiran masyarakat. Orang ini juga berada dalam posisi paling baik untuk merangsang kesadaran masyarakat mengenai dua masalah tentang kaum wanita di dunia masa kini.

Pertama-tama sebagaimana saya tulis dalam surat itu, menjadi ibu lebih sering bagaikan di"pidana"kan daripada dihargai, walaupun justru karena ada wanita yang memilih menjadi istri dan ibu, bangsa manusia dilestarikan. Dan tentu saja itu tidak adil kalau wanita-wanita itu didiskriminasikan, entah secara ekonomis atau sosial, hanya karena mereka mengikuti panggilan fundamental itu. Demikian juga saya menjelaskan bahwa sangatlah perlu mencapai kesamaan nyata di segala bidang: gaji sama untuk karya sama, perlindungan untuk ibu-ibu yang bekerja, keadilan dalam kenaikan pangkat kerja, kesamaan suami dan istri berkenaan dengan hak-hak keluarga, dan pengakuan terhadap apa saja yang merupakan bagian dari hak dan kewajiban para warga negara dalam Negara demokratis. (bdk. n.4)

NILAI-NILAI KEHIDUPAN DAN CINTA HARUS DIKUATKAN SECARA RADIKAL

Kedua, kemajuan emansipasi wanita sejati merupakan hal yang menyangkut keadilan, dan tidak boleh diabaikan lebih lama lagi, sebab merupakan bagian dari kesejahteraan masyarakat. Syukurlah kesadaran bahwa wanita harus diberi kemungkinan memainkan perannya dalam hal menyelesaikan masalah dan masa depan masyarakat, tumbuh menjadi semakin besar. Di setiap bidang "kehadiran wanita di tengah-tengah masyarakat, yang lebih berarti akan ternyata sangat berharga, sebab akan membantu menunjukkan kontradiksi yang ada kalau masyarakat diatur hanya menurut kriteria efisiensi dan produktifitas, lalu kehadiran wanita itu akan memaksa orang membentuk kembali sistim-sistim sedemikian, sehingga proses pemanusiaan dimajukan, yang menjadi tanda "kebudayaan cintakasih".(n.4)

"Kebudayaan Cintakasih" pada dasarnya merupakan penegasan nilai kehidupan dan nilai cintakasih secara radikal. Dan terutama para wanita memiliki bakat dan hak dalam bidang-bidang ini, baik bidang kehidupan maupun bidang cintakasih. Sejauh menyangkut kehidupan, walaupun tidak bertanggung jawab sendirian atas nilai hakikinya, namun wanita memiliki kecakapan khusus memberikan penegasan itu karena hubungan erat mereka dengan misteri meneruskan kehidupan. Sejauh menyangkut masalah cintakasih, wanita dapat memberikan kepada setiap aspek kehidupan, termasuk tingkat mengambil keputusan paling tinggi, mutu essensiil kewanitaan, yang terdiri atas obyektivitas dalam pertimbangan, yang dilembutkan oleh kecakapannya untuk mengerti secara mendalam tuntutan-tuntutan hubungan antar manusia.

Media komunikasi, termasuk pers, film, radio dan televisi, industri musik dan jaringan-jaringan komputer, merupakan forum modern, tempat informasi diterima dan diteruskan secara pesat ke sidang penerima di seluruh dunia; tempat gagasan-gagasan ditukarkan, sikap-sikap dibentuk dan memang kebudayaan baru diciptakan. Maka media ditakdirkan agar memiliki pengaruh sangat kuat dalam hal menentukan apakah masyarakat sungguh-sungguh mengakui serta menghargai bukan hanya hak-hak, melainkan juga bakat-bakat wanita khususnya.

Namun menyedihkan sekali, kita sering melihat bahwa wanita tidak diagungkan, melainkan dieksploitasikan dala media. Betapa sering wanita diperlakukan bukan sebagai pribadi dengan martabat yang tidak boleh diganggu-gugat, tetapi sebagai obyek yang kegunaannya ialah memuaskan nafsu akan kesenangan atau kekuasaan orang lain? Betapa sering peran wanita sebagai istri dan ibu diremehkan atau bahkan ditertawakan? Betapa sering pula peran wanita di bidang usaha atau hidup profesional digambarkan sebagai karikatur kelaki-lakian, dengan menyangkal bakat khusus pengetahuan, kasihan dan pengertian kewanitaan, yang merupakan sumbangan begitu besar kepada "kebudayaan cintakasih"?

PATUT MEDIA MEMPERHATIKAN PAHLAWAN MASYARAKAT YANG SEJATI

Para wanita sendiri dapat saja berbuat banyak untuk mengembangkan perlakuan wanita di media yang lebih baik; dengan memajukan program pendidikan media yang sehat dengan cara mengajar orang-orang lain, terutama keluarga mereka agar menjadi pengguna media cerdas di pasaran media: memberitahukan pandangan mereka kepada perusahaan produksi, para penerbit, jaringan radio/televisi dan pemasang iklan berhubung dengan cara dan penerbitan yang menghina martabat wanita atau merendahkan derajat peranan mereka dalam masyarakat. Apalagi, para wanita dapat dan harus menyiapkan diri untuk mengambil kedudukan penting dan kreatif dalam media, tidak dengan menentang peranan kaum pria atau menirunya, tetapi dengan menanamkan "genius" mereka sendiri pada karya aktivitas profesional mereka.

Media pasti akan berbuat baik kalau memperhatikan khusus pahlawan wanita sejati masyarakat, termasuk wanita kudus tradisi Kristiani, sebagai contoh peranan untuk kaum muda dan generasi-generasi mendatang. Demikian juga dalam hal ini tidak dapat melupakan wanita suci yang banyak itu, yang telah mengorbankan segala-galanya untuk mengikuti Yesus dan membaktikan diri untuk berdoa dan melayani kaum miskin, para orang sakit, para tuna aksara, kaum muda, jompo dan cacat. Beberapa wanita ini juga terlibat dalam karya media - berkarya demikian sehingga "kepada kaum miskin kabar gembira diwartakan (bdk. Lk. 4:18).

"Jiwaku mengagungkan Tuhan" (Luk. 1:46). Sang Perawan tersuci Maria memakai kata-kata ini ketika membalas salam sepupunya Elisabeth, dan dengan demikian mengakui "hal-hal besar" yang telah dibuat Allah dalam dirinya. Gambar wanita yang dikomunikasikan oleh media seharusnya memasukkan pengakuan bahwa setiap bakat wanita mewartakan keagungan Tuhan. Tuhan yang telah mengkomunikasikan kehidupan dan cintakasih, kebaikan dan rahmat, Tuhan yang merupakan sumber martabat dan kesamaan wanita, dan sumber "genius" istimewa mereka.

Saya berdoa agar Hari Komunikasi Sedunia ke 30 ini mendorong semua yang terlibat dalam media komunikasi sosial, terutama para putera dan puteri Gereja, agar mempromosikan kemajuan sejati dari martabat dan hak-hak wanita, dengan memproyeksikan gambaran benar dan terhormat peranan mereka dalam masyarakat, dan dengan memperlihatkan "kebenaran penuh mengenai para wanita" (surat kepada kaum wanita n.12).

Dari Vatikan, 24 Januari 1996

Johannnes Paulus PP II