BER-KOMSOS

Ini itu tentang bagaimana Gereja berjiarah di dunia yang berkomunikasi sosial.

Tuesday, January 02, 2001

SGK 2007 Anak-anak dan Media

PESAN BAPA SUCI BENEDICTUS XVI
UNTUK HARI KOMUNIKASI SEDUNIA KE-41

Thema:

Anak-anak dan Media:

Sebuah Tantangan untuk Pendidikan

20 Mei 2007

Saudara dan Saudari yang terkasih,

1. Tema Hari Komunikasi Sedunia yang ke-41, ”Anak-anak dan Media: Sebuah Tantangan untuk Pendidikan”, mengajak kita untuk ber-refleksi atas dua pokok yang sangat penting yang berkaitan satu sama lain. Yang pertama adalah pembinaan anak-anak. Yang kedua, barangkali kurang nyata, namun tidak kalah pentingnya, adalah pembinaan media.

Aneka-ragam tantangan dalam menghadapi pendidikan dewasa ini sering dikaitkan dengan pengaruh media yang begitu menyeluruh di dunia kita ini. Sebagai suatu aspek dari gejala globalisasi, dan masih dipicu lagi dengan cepatnya perkembangan teknologi, media memang telah membentuk lingkungan budaya dengan sangat mendalam (bdk Paus Johanes Paulus II, Surat Apostolik Rapid Development, 3). Memang, sementara orang menegaskan, bahwa pengaruh formatif media ini telah menjadi saingan pengaruh sekolah, Gereja dan barangkali juga keluarga. ”Realitas, bagi banyak orang, adalah apa yang nyata dalam pandangan media” (Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial, Aetatis Novae, 4).

2. Hubungan antara anak-anak, media dan pendidikan dapat ditinjau dari dua sudut pandang: pembinaan anak-anak oleh media dan pembinaan anak-anak untuk dapat memberikan tanggapan yang sebaik-baiknya kepada media. Maka muncullah semacam ketimbalbalikan yang menunjuk kepada pertanggungjawaban dari media sebagai sebuah industri dan kepada kebutuhan untuk mengambil bagian secara aktif dan kritis dari pihak pembaca, pemirsa dan pendengar. Dalam kerangka ini, pelatihan untuk memanfaatkan media dengan sebaik-baiknya menjadi esensial bagi perkembangan anak-anak secara kultural, moral dan spiritual.

Bagaimanakah harus dilindungi dan dimajukan kebaikan-bersama ini? Mendidik anak-anak agar mereka dapat memilih dengan baik pemanfaatan media adalah tanggung jawab orangtua, Gereja dan sekolah. Peranan orangtua adalah yang paling penting. Mereka mempunyai hak dan kewajiban untuk memastikan, bahwa anak-anak mereka memanfaatkan media dengan bijak, yakni dengan melatih hati nurani anak-anak agar dapat mengungkapkan secara sehat dan objektif penilaian mereka yang nantinya akan menuntun mereka untuk memilih atau menolak acara-acara yang tersedia (lih. Paus Johanes Paulus II, Ekshortasi Apostolik Familiaris Consortio, 76). Dalam bertindak demikian, para orangtua seharusnya disemangati dan dibantu oleh sekolah dan paroki. Dengan demikian dipastikan, bahwa aspek peranan orangtua yang sukar tetapi sungguh memuaskan ini memang didukung oleh masyarakat yang lebih luas.

Media pendidikan seharusnya bersifat positif. Anak-anak yang diperhadapkan pada apa yang indah dan yang secara moral istimewa akan dibantu untuk mengembangkan apresiasi, kebijakan dan ketrampilan membuat pilihan untuk menentukan sikap. Di sini pentinglah pengakuan akan nilai fundamental keteladanan orangtua dan pengakuan akan manfaat memperkenalkan kepada kaum muda pendidikan klasik bagi anak-anak di bidang kesusasteraan, kesenian dan musik yang sungguh mengangkat hati. Memang sastra populer akan senantiasa mendapatkan tempatnya dalam kebudayaan, namun godaan untuk menjadikannya hanya sebagai suatu sensasi, tidaklah boleh diterima, meskipun hanya secara pasif, terutama ditempat-tempat pembinaan. Keindahan, yang merupakan semacam cerminan keilahian, memberi inspirasi dan menghidupkan hati dan budi kaum muda, sedangkan yang buruk dan yang kasar memberi dampak depresi bagi sikap dan perilaku.

Pendidikan media, sebagaimana halnya dengan pendidikan pada umumnya, menuntut pembentukan dalam melaksanakan kebebasan. Inilah tugas yang mendesak. Begitu sering kebebasan ditampilkan sebagai upaya yang tak kunjung henti untuk mencari kesenangan atau mencari pengalaman-pengalaman baru. Kalau demikian, ini penghukuman bukannya pembebasan! Kebebasan sejati tidak pernah menghukum seseorang—khususnya seorang anak—untuk terus tak puasnya mengejar akan hal-hal yang baru. Dalam terang kebenaran, kebebasan yang otentik dialami sebagai jawaban definitif terhadap ”ya” Allah kepada manusia, yang memanggil kita untuk memilih, bukan secara sembarangan, tetapi secara tahu dan mau, apa saja yang baik, benar dan indah. Oleh karena itu, orangtua, sebagai garda depan kebebasan itu, sambil secara bertahap memberikan kepada anak-anak kebebasan yang semakin besar, membawanya sampai kepada sukacita mendalam dari kehidupan itu (lih. Sambutan pada Pertemuan Internasional Keluarga, Valencia, 8 Juli 2006).

3. Kerinduan mendalam para orangtua dan guru untuk mendidik anak-anak di jalan keindahan, kebenaran dan kebaikan, dapat didukung oleh industri media sampai pada taraf manakala ia mendukung martabat manusia yang fundamental, mendukung makna sejati nilai perkawinan dan hidup keluarga, dan mendukung secara positif pencapaian tujuan hidup manusia. Maka, kebutuhan bagi media yang memiliki komitmen bagi pembinaan yang efektif dan komitmen bagi nilai etis yang standard, dilihat dengan perhatian khusus dan bahkan dengan sangat mendesak, bukan saja oleh para orangtua dan guru, tetapi juga oleh semua yang memiliki rasa tanggungjawab kemasyarakatan.

Sambil menegaskan keyakinan, bahwa banyak orang yang terlibat dalam komunikasi sosial berkemauan untuk melakukan apa yang benar (lih. Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial, Ethics in Communications, 4), kami harus juga mengakui, bahwa mereka yang bekerja di bidang ini berhadapan dengan ”tekanan psikologis khusus dan dilema-dilema etik” (Aetatis Novae, 19), karena adakalanya mereka harus menyaksikan bahwa persaingan komersial telah memaksa para komunikator untuk menurunkan standard mutunya. Segala macam kecenderungan untuk menghasilkan program dan produksi, -termasuk film animasi dan video games,- yang dengan mengatasnamakan entertainment mengagungkan kekerasan dan memberikan potret tingkah laku yang anti-sosial atau yang merendahkan seksualitas manusia, adalah suatu kebejatan, dan hal itu harus semakin ditolak lagi, apabila program itu ditujukan bagi anak-anak dan remaja. Bagaimana dapat menjelaskan bahwa tayangan itu adalah suatu ”hiburan” kepada begitu banyak kaum muda yang pada kenyataannya sedang mengalami sendiri penderitaan karena kekerasan, eksplotasi dan pelecehan?

Dalam kaitan ini, hendaknya semua pihak berusaha sungguh-sungguh untuk merenungkan betapa kontrasnya pertentangan antara Kristus yang ”memeluk dan meletakkan tangan atas anak-anak itu dan memberkati mereka” (lih Mrk 10:16) dan dia ”yang menyesatkan anak-anak ini ... yang lebih baik digantungi batu pada lehernya ...” (lih. Luk 17:2). Sekali lagi saya menghimbau para pemimpin industri media untuk mendidik dan mendorong para produsen untuk menjaga kebaikan-bersama, untuk menjunjung tinggi kebenaran, untuk melindungi martabat manusia secara pribadi dan untuk memajukan penghargaan terhadap kebutuhan-kebutuhan keluarga.

4. Gereja sendiri, dalam terang warta keselamatan yang dipercayakan kepadanya, adalah juga guru umat manusia dan Gereja senantiasa menyambut baik kesempatan untuk dapat memberikan bantuan kepada para orangtua, para pendidik, para komunikator dan juga kaum muda itu sendiri. Program-program paroki dan sekolah-sekolah Gereja dewasa ini haruslah menjadi yang terdepan di bidang pendidikan media. Dan di atas semuanya itu Gereja rindu untuk dapat membagikan visinya terhadap penghargaan martabat manusia, yang adalah juga pusat dari semula komunikasi antar manusia yang mulia.

”Sambil melihat dengan mata Kristus, Saya dapat memberikan kepada orang lain, jauh lebih banyak daripada apa yang menjadi kebutuhan lahiriah mereka; Saya dapat menunjukkan kepada mereka cintakasih yang sangat mereka dambakan itu” (Deus Caritas Est, 18)..

Dikeluarkan di Vatikan, pada tanggal 24 Januari 2006, pada Pesta St Fransiskus dari Sales.

BENEDICTUS XVI

Monday, January 01, 2001

SGK 2006



"MEDIA:

JEJARING UNTUK


KOMUNIKASI,

HIDUP BERKOMUNITAS, DAN

KERJASAMA"


PESAN BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI
PADA HARI KOMUNIKASI SEDUNIA KE-40

Para Saudara-Saudari,

1. Menjelang 40 tahun penutupan Konsili Vatikan II, dengan gembira saya mengenang kembali Dekrit Sarana-Sarana Komunikasi Sosial, Inter Mirifica yang secara khusus menerima kekuatan pengaruh media bagi masyarakat manusia secara keseluruhan. Perlunya mengendalikan kekuatan itu demi kemaslahatan bangsa manusia seluruhnya telah mendorong saya, dalam pesan pertama saya untuk Hari Komunikasi Sedunia ini, untuk merenungkan secara singkat pemahaman media sebagai jejaring yang memperlancar komunikasi, hidup berkomunitas, dan kerjasama.
Santo Paulus, dalam suratnya kepada umat di Efesus, dengan gamblang melukiskan panggilan kita sebagai manusia untuk "ambil bagian dalam kehidupan ilahi" (Dei Verbum, 2) karena oleh Dia, kita dalam satu roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.
Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang tumbuh menjadi tempat kediaman Allah (Bdk Ef. 2:18-22). Penggambaran luhur untuk hidup berkomunitas ini melibatkan segala aspek kehidupan kita sebagai orang kristiani. Panggilan untuk menjadi benar sebagai komunikasi diri Allah dalam Kristus sesungguhnya merupakan panggilan untuk mengakui kedinamikan kekuatan-Nya dalam diri kita, kemudian mencari jalan untuk menyebarkannya ke orang lain, sehinga kasih-Nya sungguh-sungguh (menjadi kebijakan yang) paling dominan di dunia ini (bdk. Homili pada Hari Kepemudaan Dunia, Kologne, 21 Agustus 2005)


2. Kemajuan-kemajuan teknologis dalam bidang media dalam artian tertentu telah menaklukkan waktu dan ruang, memungkinkan manusia berkomunikasi seketika dan langsung, kendatipun terpisahkan jarak yang teramat jauh. Perkembangan ini menyajikan peluang yang luarbiasa bagi pelayanan demi kemaslahatan umum dan "merupakan warisan yang harus dijaga dan dikembangkan" (Rapid Development, 10).
Namun, sebagaimana kita sekalian ketahui, dunia kita ini jauh dari sempurna. Setiap hari kita diingatkan bahwa kecepatan komunikasi tidak serta merta terterjemahkan dalam pembentukan kerjasama dan persatuan manusia.
Memberi informasi pada hatinurani seseorang dan membantu membentuk pemikirannya tidak pernah merupakan tugas yang netral. Komunikasi sejati menuntut keberanian dan tekad yang berlandaskan prinsip-prinsip. Mereka yang bekerja dalam bidang media dituntut tekad untuk tidak layu di bawah beban begitu banyak informasi, bahkan untuk tidak puas dengan kebenaran-kebenaran yang parsial ataupun sementara. Sebaliknya, diperlukan baik pencarian dan penyiaran apa yang menjadi dasar dan makna yang paling dalam dari keberadaan kita sebagai manusia, yang bersifat pribadi maupun sosial(cf. Fides et Ratio, 5). Dalam hal ini media dapat berkontribusi secara konstruktip pada penyebar-luasan apa yang baik dan benar.

3. Panggilan agar media dewasa ini menjadi bertanggung-jawab - menjadi pelopor kebenaran dan pendukung perdamaian yang mengalir darinya-membawa serta beberapa tantangan. Benar bahwa pelbagai alat-alat komunikasi social memudahkan pertukaran informasi, ide-ide, dan saling pengertian antar kelompok, namun alat-alat itu juga dicemari dengan ambiguitas. Sembari menyediakan tempat bagi "meja bundar yang besar" untuk dialog, ada tendensi-tendensi dalam media yang menimbulkan suatu monokultur (kebudayaan tunggal) yang meredupkan kreatifitas, menggembosi subtilitas pemikiran yang kompleks dan kurang menghargai kekhususan budaya-budaya dan khususnya iman keagamaan. Itu semua merupakan distorsi yang akan terjadi bila industri media hanya melayani kepentingannya sendiri atau semata-mata didorong untuk mencari keuntungan., dengan demikian kehilangan rasa tanggung-gugat bagi kebaikan umum.
Pemberitaan yang akurat, penjelasan penuh atas hal-hal yang menyangkut kepentingan publik, representasi yang fair atas pelbagai sudut pandang harus lah selalu dipelihara. Perlunya menyangga dan mendukung perkawinan dan kehidupan keluarga secara khusus menjadi penting, justru karena menyangkut batusendi dari setiap kebudayaan dan masyarakat (bdk. Apostolicam Actuositatem, 11). Dalam kerjasama dengan para orangtua, komunikasi sosial dan industri hiburan dapat membantu dalam panggilan yang sulit namun luhur dan memuaskan dalam mendidik anak-anak, melalui penampilan contoh-contoh kehidupan manusia dan kasih yang amat mendidik (bdk. Inter Mirifica, 11). Betapa mengecilkan hati dan dekstruktipnya bagi kita semua bila yang sebaliknya terjadi. Bukankah hati kita menjerit, khususnya, bila orang muda kita dibanjiri ungkapan-ungkapan cinta yang rendah dan palsu yang memperolokkan martabat manusia yang dianugerahkan Allah dan merendahkan kepentingan-kepentingan keluarga?

4. Dalam rangka menunjang kehadiran media yang konstruktip dan pemahaman akan media yang positip dalam masyarakat, saya ingin menenaknak kembali pentingnya tiga hal, yang telah disebut pendahulu saya yang amat terpuji Paus Yohanes Paulus II, sebagai langkah-langkah yang perlu demi pelayanan pada kebaikan umum: yakni Pendidikan, Keterlibatan, dan Dialog (bdk. Rapid Development, 11).
Formasi pendidikan dalam penggunaan media secara kritis dan bertanggung-jawab membantu orang untuk pandai-pandai menggunakan media dan sesuai dengan tujuan. Dampak mendalam dari kosakata baru dan gambar-gambar yang dengan mudah diperkenalkan kepada masyarakat oleh media elektronik pada khususnya tidak usah dilebih-lebihkan. Justru karena media sekarang ini membentuk budaya popular, mereka sendiri wajib mengatasi segala godaan untuk memanipulasi, khususnya mereka yang masih muda, alih-alih mengejar keinginan untuk mendidik dan melayani. Dengan demikian media melindungi, dan bukannya sebaliknya menggerogoti, tenunan masyarakat sipil yang laik bagi pribadi manusia.
Partisipasi dalam media massa muncul dari kodrat media sendiri sebagai sesuatu yang ditujukan untuk kepentingan semua orang. Sebagai layanan public, komunikasi sosial menuntut semangat kerjasama dan tanggungjawab bersama dan tanggung-gugat yang tinggi dalam penggunaan sumberdaya-sumberdaya publik dan dilaksanakannya peran-peran lembaga-lembaga publik (bdk. Ethics in Communications, 20), termasuk di dalamnya pembuatan aturan-aturan baku dan kebijakan-kebijakan atau badan-badan yang dibuat untuk mencapai tujuan ini.
Akhirnya, usaha memajukan dialog melalui pertukaran pengetahuan, ungkapan-ungkapan solidaritas dan keterlibatan dalam usaha-usaha perdamaian membuka peluang besar bagi media massa, yang memang harus diakui dan dilakukan. Dengan demikian media massa berpengaruh dan menjadi sumberdaya yang amat dihargai untuk pembentukan kebudayaan kasih yang didambakan semua orang.
Saya yakin kalau usaha-usaha serius untuk memajukan tiga langkah ini akan membantu media untuk berkembang secara benar sebagai jejaring komunikasi, persekutuan umat, dan kerjasama, membantu orang, perempuan dan anak-anak, menjadi semakin sadar akan martabat pribadi manusia, semakin bertanggung-jawab, dan semakin terbuka kepada orang lain khususnya anggota-anggota masyarakat yang paling membutuhkan dan palinglemah (bdk. Redemptor Hominis, 15; Ethics in Communications, 4).
Sebagai penutup, saya mengingat kembali kata-kata St. Paulus yang memberi semangat: Kristus adalah damai kita. Di dalamnya kita satu (bdk. Ef 2:14). Marilah kita robohkan tembok permusuhan yang memisahkan dan mari kita bangun persekutuan kasih sesuai dengan citra Allah yang diwartakan lewat Anak-Nya!


Kota Vatikan, 24 Januari 2006,
pada Pesta St. Fransiskus de Sales


BENEDIKTUS XVI

© Hak Cipta 2006 - Libreria Editrice Vaticana