BER-KOMSOS

Ini itu tentang bagaimana Gereja berjiarah di dunia yang berkomunikasi sosial.

Tuesday, January 31, 2006

TI itu rahmat?

REFLEKSI TEKNOLOGI INFORMASI SEBAGAI RAHMAT PENGUDUSAN DUNIA

Sebuah permenungan dari praktisi komunikasi sosial

TEKNOLOGI MAJU PESAT

1. Sungguh sangat menakjubkan, satu abad terakhir boleh dikatakan dapat disejajarkan dengan perkembangan teknologi paling tidak sepuluh abad sebelumnya. Kemajuan teknologi di masa kini, lebih-lebih dengan ditemukannya sistem komputer, nampaknya berjalan menurut deret ukur. Hal-hal yang nampaknya belum akan terjangkau oleh manusia, ternyata sudah banyak yang terlampaui. Sinergi antara kecerdasan manusia dan potensi alam semesta nampaknya menjadi semakin kental. Lalu, potensi masing-masing pun dengan sangat pesat dapat mengejawantahkan diri dalam kehidupan, sampai dapat dirasakan hasilnya oleh setiap orang yang mau mencobanya. Dan tentu saja, perkembangan itu sekaligus memacu setiap orang untuk dapat ikut serta di dalamnya. (Termasuk kita semua yang hadir di sini).

2. Buah-buah spektakular dari perkembangan teknologi itu menyangkut setiap segi hidup manusia. Isu-isu baru seperti globalisasi, pasar bebas, desa dunia, seolah menjadi isu-isu yang sangat mendesak setiap orang untuk ditanggapi secara aktif dan positif. Seolah-olah isu-isu itu adalah sebuah keharusan, yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Seolah-olah, tanpa terlibat di dalamnya manusia tidak lagi menjadi warga dunia, atau paling sedikit hanya akan menjadi semacam 'sampah' dunia. Benarkah demikian? Saya meragukannya. Mengapa?

KEMAJUAN TEKNOLOGI: MENGAGUMKAN DAN BERNILAI TAWAR TINGGI

3. Ada orang yang pernah nyeletuk: "Jaman kita sekarang ini jaman Aha Erlebnis", jaman Aristoteles. Dalam waktu yang cukup singkat orang sudah harus ber "Aha, Aha" karena selalu ada hal baru yang menakjubkan. Dan memang pantaslah manusia mengagumi penemuan-penemuan barunya itu. Dalam arus kekaguman itu, manusia, yang pada dasarnya juga dikaruniai potensi keinginan untuk dikagumi, lalu dengan mudah mengejar hal-hal baru itu. Yang mengikuti perkembangan teknologi dikatakan sebagai orang yang dapat mengikuti jaman. (Laptop, HP, TV Flat, DVD)

4. Teknologi modern sekaligus mengikutsertakan kecanggihan dalam menawarkannya kepada manusia. Teknologi tinggi lalu sering berarti juga biaya yang besar. Tetapi, begitu terkagum-kagumnya manusia, sampai pengorbanan yang besar pun tidak lagi dirasa sebagai sebuah pengorbanan. Kalau pengorbanan itu memang merupakan pengorbanan pribadi, masih lumayan. Kalau yang dikorbankan adalah orang-orang lain? Kelompok lain? Atau bangsa yang lain? (Contoh bio-teknologi) Maka, penawarannya pun sebenarnya sangat tinggi, tetapi orang sudah tidak merasa lagi perlu menawar, karena sudah menjadi 'kebutuhan pokok'. (Contoh petani tembakau yang membeli kulkas, bioteknologi - kedelai di Klaten dan randu di Sulawesi Tengah).

TERUS MENUJU KE PUNCAK

5. Perkembangan teknologi yang sangat pesat perlu dikagumi. Rasa kagum akan teknologi itu memberi makna kepada hidup manusia. Tetapi, sekaligus manusia harus menyadari bahwa teknologi itu tak akan pernah selesai. Apakah memakai deret hitung, ataupun memakai deret ukur, nampaknya puncak teknologi selalu terjadi pada kurun waktu tertentu saja. Tahun 60-an sudah dirancang 'generatio spontania'. Tetapi pada saat yang sama, orang sudah menyadari bahwa akan sangat sulit mencapai teknologi 'daging' manusia, misalnya. Dalam kesadaran itu, sekaligus manusia sampai pada pengakuan yang rendah hati, bahwa teknologi adalah sarana, alat, sebuah bantuan. Penting, memang. Tetapi pada hakekatnya tetap merupakan perantara saja.

TERTUJU KEPADA ALAM SEMESTA DAN PENCIPTANYA

6. Manusia mengembangkan religiositas pribadinya (cita rasa akan Yang Kuasa), ketika ia sungguh melibatkan diri dalam kehidupan seutuhnya. Yesus bersabda: "Yang kehilangan nyawanya akan memperolehnya." Salah satu segi kehidupan manusia, yang memang harus diterjuni dan ditekuninya adalah teknologi. Dunia teknologi, entah mau disebut teknologi kuno, atau pun teknologi modern adalah bidang hidup manusia. Semakin manusia melibatkan diri di dalamnya, bukan untuk menjadi budaknya, semakin ia dapat mengembangkan religiositas dan ketakwaannya kepada Sang Pencipta dan karya-karyaNya (alam semesta).

RAHMAT PENGUDUS ADALAH HIDUP APA ADANYA

7. Ketika Yesus menyatakan tugas perutusanNya (Lukas 4), Ia menunjukkan inti dari kabar gembira dari surga. Yesus membongkar kesempitan pikiran manusia akan hakekat dan kekudusan Allah. Allah yang Mahakudus, bukanlah Allah yang datang dalam keadaan yang serba bersih, serba gemerlap, tanpa sebutir debu pun yang melekat di badannya. Yesus sendiri berjalan dan berjalan dan berjalan. Pada jaman Yesus, kita tak dapat membayangkan orang yang terus berjalan di jalan-jalan waktu itu akan lepas dari debu. Pengudusan yang terlaksana dalam kehidupan Yesus adalah pengudusan dalam perjumpaan yang nyata dengan sesamaNya, orang baik-baik ataupun orang berdosa. Pengudusan itu terwujud dalam SabdaNya/FirmanNya yang keluar dari mulutNya, juga kepada orang-orang yang sungguh-sungguh bebal. Pengudusan itu terwujud dalam karya-karyaNya, mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, melepaskan belenggu-belenggu kehidupan, bergaul dengan orang miskin, tanpa memperhitungkan lagi segala hutang mereka kepada Tuhan atau pun sesamanya (Tahun rahmat Tuhan). Pengudusan itu terlaksana juga dalam penyerahan hidupNya kepada Bapa, setiap kali Ia berdoa, sampai di atas kayu salib. Yesus yang terlibat seutuhnya dalam kehidupan apa adanya itu membawa dan membawakan rahmat pengudusan. Pengudusan itu bukan terlaksana dalam kungkungan peraturan dan kelembagaan agama, atau struktur-struktur masyarakat, yang seringkali justru membangun belenggu-belenggu kehidupan. Yesus mau membebaskan umat Allah dari segala belenggu itu.

8. Sebagai pengikut Kristus, kita pun mau mengikuti Dia. Ketika kita mengikuti Dia, niscaya, teknologi yang kita pakai mengalami rahmat pengudusan yang tersalur melalui diri kita, tetapi juga, sekaligus, kita pun menerima rahmat pengudus melalui teknologi itu. Ketika kita dapat merasakan bagaimana teknologi membantu kita untuk semakin dekat dan bersatu dengan Allah, ketika rasa kagum kita tidak hanya berhenti pada teknologi semata-mata, ketika kita merasakan uluran tangan dalam berteknologi, di sanalah rahmat pengudusan pun sedang kita terima.

Selamat berteknologi

Bintaran 31 Juli 2003