BER-KOMSOS

Ini itu tentang bagaimana Gereja berjiarah di dunia yang berkomunikasi sosial.

Sunday, December 17, 2000

SGK 1991

DAMPAK MEDIA

PADA

KESATUAN DAN KEMAJUAN

UMAT MANUSIA


Amanat Bapa Suci Yohanes Paulus II

HARI KOMUNIKASI SEDUNIA KE 25

12 MEI 1991

Saudara-saudariku yang terkasih,

Untuk perayaan Hari Komunikasi Sedunia ini, kita kembali kepada tema, yang menjadi pesan inti instruksi pastoral "communio et progressio", yang telah disetujui oleh Paus Paulus VI tahun 1971, menyangkut pengetrapan dekrit konsili Vatikan tentang sarana-sarana komunikasi sosial. Sesuai dengan keinginan para Bapa konsili instruksi ini menyatakan, bahwa kesatuan dan kemajuan umat manusia menjadi tujuan utama komunikasi sosial dan sarana-sarananya. Pada hari ulang tahun keduapuluh dokumen penting ini, saya ingin menekankan kembali pemikiran dasarnya, lalu mengajak para warga Gereja, agar sudi merenungkan kembali masalah-masalah serius dan kemungkinan-kemungkinan baru lagi berharga yang berasal dari perkembangan-perkembangan terus menerus di bidang sarana-sarana komunikasi, terutama dalam hubungan dengan kesatuan dan kemajuan bangsa-bangsa dimana saja berada.

Sejak lama Gereja yakin, bahwa media komunikasi (pers, radio, televisi dan film) harus dianggap "anugerah-anugerah Allah" (bdk. Pius XII, Ensiklik MIRANDA PRORSUS, AAS, 24 [1957], p. 765).

Sejak instruksi pastoral itu terbit, daftar "anugerah", media komunikasi, menjadi semakin panjang. Alat modern, seperti satelit komputer, VCR untuk di rumah, apalagi cara menyebarluaskan informasi yang makin hari makin canggih, tersedia saja dewasa ini untuk umat manusia. Anugerah-anugerah modern ini dan media komunikasi tradisional tujuan dan kegunaannya sama: semakin menyatukan kita dalam rasa persaudaraan dan sikap saling mengerti, lalu membantu kita maju di jalan menuju ke tujuan manusia sebagai putera-puteri Allah yang terkasih.

Sangat jelas kiranya hubungan antara pertimbangan umum ini dan renungan yang ingin saya berikan pada kesempatan ini: media yang begitu ampuh diberikan kepada kita, jadi dari semua orang yang terlibat dalam bidang ini dituntut rasa tanggungjawab tinggi dalam cara menggunakannya. Atau seperti diungkap dalam instruksi pastoral tahun 1971: "Media komunikasi sendiri merupakan sarana yang tidak hidup". Oleh karena itu Media memenuhi atau tidak memenuhi maksud untuk yang mana diberikan kepada umat manusia, tergantung kebijaksanaan dan rasa tanggung jawab yang menggunakannya.

Menurut pandangan Kristiani, media komunikasi itu merupakan sarana indah, yang dibawah penyelenggaraan Illahi tersedia bagi manusia, untuk membangun hubungan lebih erat antar pribadi, dan kesatuan seluruh umat manusia. Benar juga, dalam perkembangannya, media dapat menciptakan bahasa baru, sehingga orang dengan lebih mudah saling mengerti dan saling mengenal, dan karena itu lebih bersedia bekerja sama demi kebaikan umum. (bdk. Communio et Progressio, 12). Tetapi agar sungguh-sungguh dapat menjadi sarana efektif untuk persahabatan dan kemajuan manusia, media harus menyalurkan dan mengungkapkan kebenaran, keadilan dan damai; juga kehendak baik, semangat beramal dam gotong royong, cinta kasih dan kerukunan. (bdk.ibid. 12 dan 13). Media ini entah memperkaya entah memiskinkan martabat manusia, tergantung pandangan moral dan rasa tanggung jawab mereka yang terlibat dalam proses komunikasi maupun mereka yang menerima pesan yang disampaikan media itu.

Setiap warga umat manusia, entah dia konsumen paling sederhana, entah dia produser program paling berkuasa, memiliki tanggungjawab pribadi di bidang ini. Oleh karena itu saya menghimbau para Gembala Gereja, maupun semua orang beriman Katolik yang terlibat di dunia komunikasi, agar menyegarkan kembali pengetahuan mereka tentang prinsip-prinsip dan pedoman-pedoman yang dengan begitu jelas dikemukakan di Communio et Progressio. Semoga semua mengerti dengan lebih baik, dimana letaknya kewajiban mereka, lalu merasa diri diajak untuk mengamalkan kewajiban-kewajiban itu sebagai sumbangan pokok kepada kesatuan dan kemajuan umat manusia.

Harapan saya, supaya hari komunikasi sedunia yang keduapuluh lima ini menjadi kesempatan bagi paroki-paroki dan masyarakat setempat untuk memperbaharui perhatian mereka kepada kenyataan media dan dampaknya kepada masyarakat umum, keluarga-keluarga dan orang perorangan, khususnya anak-anak dan kaum muda. Dua puluh tahun sesudah Communio et Progressio kita hanya dapat menyetujui apa yang diingatkan dan diharapkan di dalamnya mengenai perkembangan di bidang komunikasi; "sekonyong-konyong.... tanggungjawab Umat Allah akan meningkat dengan sangat hebatnya. Belum pernah sebelumnya orang diberi kesempatan-kesempatan semacam itu. Akan mungkin jadinya untuk menjamin agar alat-alat itu mengembangkan kemajuan seluruh bangsa manusia..... Akan mungkin jadinya untuk memperkuat persaudaraan manusia. Dan kabar sukacita pun akan dapat diwartakan dimana-mana, seraya membawa kesaksian akan Kristus, Juru Selamat. (No. 182). Dengan sunguh-sungguh saya mohon, sudilah Allah membimbing dan membantu Anda untuk mewujudkan harapan dan tugas agung ini.



Dari Vatikan, 24 Januari 1991.

Pesta Fransiskus dari Sales.

Johanes Paulus PP. II


0 Comments:

Post a Comment

<< Home